Friday, July 11, 2014

Surat untuk teman-teman seperjuangan



“Perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah knows while you know not“. [Quran 2: 216]

Dear readers and team...
I would like send a letter to all future mothers in the world.


Selamat Pagi Teman-Teman Seperjuangan..

Bagaimana kabar kalian semua? Aku disini baik-baik. Kuharap kalian pun baik sepertiku. Hari terasa amat singkat, bukan? Tak terasa kita sudah mengarungi beribu-ribu hari dalam penantian ini ya. Jika kita semua dikumpulkan dalam satu ruangan sekaligus, tentu akan ada banyak cerita haru-biru tentang banyak hari yang menyesakkan. Iya, karena untuk kita semua setiap hari adalah hari menunggu. Menunggu kapan malaikat-malaikat kecil bersemayam di rahim kita. Mungkin terkadang lelah menunggu namun bukankah semakin bertambah hari, berarti semakin bertambah dekat pula waktu itu akan tiba, bukan? 

Selalu ada malam-malam yang kita tangisi sambil mempertanyakan banyak hal, kan? Bertanya apa rasanya ada sesuatu yang hidup dalam tubuh kita. Bertanya apa rasanya mendengar teriakan nyaring ditengah-tengah tempat tidur kita. Bertanya apa rasanya hal pertama yang kita lihat di pagi hari adalah senyum lucu dan mata bulat yang minta dicubit karena menggemaskan. Bertanya apa rasanya dipanggil Ibu. Ah, teman-teman, apa rasanya ya?
Dan ini yang tak kalah berat. Akan selalu ada pertanyaan sama yang muncul setiap kita bertemu dengan orang baru ataupun kawan yang sudah lama tak kita temui. Pertanyaan yang sama dan terkadang mengiris-ngiris ulu hati ketika kita sedang dalam ambang sensitivitas yang tinggi. Pertanyaan itu adalah; “Sudah punya anak?”. Deg. Lalu, kita pun berusaha memberikan senyum dan berkata; “Belum. Minta doanya, ya.” Sungguh tak ada yang salah memang dengan pertanyaan mereka, hati kita saja yang mungkin sedang menanggung rindu yang teramat sangat menjadi seorang Ibu. 

Teman-teman tersayang,
Masih terngiang-ngiang ucapan seorang Ustadz bahwa ada yang harus diluruskan dari hal yang tengah kita hadapi sekarang. Jangan mengucapkan: “Belum dikasih karena belum dipercaya.” Lalu apakah berarti Tuhan lebih percaya memberikan malaikat-malaikatNya pada orang-orang yang bahkan melakukan hubungan di luar pernikahan daripada kita yang memang menempuh perjalanan baik-baik dengan menikah serta meminta memohon dalam setiap doa? Tentu tidak, bukan?
Belum waktunya.” tentu lebih baik diucapkan. Iya, Tuhan punya skenario lain terhadap perjalanan kita. Mungkin belum sekarang waktunya. Pasti Dia akan memberi namun kita masih diharuskan menunggu dan bersabar. Mungkin Tuhan memang masih rindu mendengar kita memohon dan sedang mempersiapkan sesuatu yang terbaik untuk kita. Tetaplah berbaik sangka padaNya ya, teman-teman. 


Masih banyak hal yang lebih patut kita syukuri daripada meratapi sesuatu yang belum kita miliki. Aku rasa, jika kita mempunyai anak kelak, tentu pasti akan menambah pundi-pundi kebahagiaan yang sudah kita miliki sekarang namun bukan berarti belum mempunyai anak dapat mengurangi kebahagiaan yang sudah Tuhan berikan. Lalu nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Aku sangat beruntung mempunyai suami yang selalu memberikan nasihat sejuknya saat aku berkeluh-kesah tentang kerinduanku ini. Pernah dia berkata: “Sabar, Sayang. Mungkin belum sekarang waktunya. Jika kita terus bersabar, Insyallah kita akan mempunyai anak-anak yang lucu. Jika belum sekarang, mungkin nanti sebentar lagi. Jika tidak di dunia ini, Insyaallah di Jannah-nya. Kamu mau punya anak berapa? Lima? Tujuh? Sepuluh? Di JannahNya tinggal sebut saja berapapun yang kamu mau. Tentu jika kita ikhlas menerima ini sebagai ketentuanNya. InsyaAllah. “ Hati ini pun tenang seketika. Alhamdulillah.
Berbagai pengobatan alternatif sudah kami berdua jalani, empat dokter spesialis kandungan sudah kami datangi sebagai bentuk ikhtiar. Namun, ternyata Tuhan masih rindu mendengar doa-doa kami, itu yang selalu suamiku katakan. Bagaimana dengan kalian? Semoga suami kalian pun selalu menjadi seseorang yang  menguatkan kalian ya. Aamiin.

Teman-teman tersayang,
Aku rasa cukup sekian. Teruslah bersemangat menggapai hari. Teruslah berusaha dan berikhtiar. Teruslah belajar dan memantaskan diri menjadi orang tua  untuk anak-anak kita kelak. Tuhan amat sayang pada kita dengan memberikan waktu lebih lama untuk mempersiapkan menjadi orang tua terbaik. Sunggguh Tuhan amat sayang pada kita.
Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu dan saling bercerita. Saling menguatkan dan saling menyemangati. Tapi, bukankah doa adalah hal terindah yang mampu kita berikan saat tak bisa bertatap satu sama lain?  Kita saling mendoakan ya, teman-teman.



Dari aku,

                                                          
Perindu anak-anak surga



~Naya

5 comments:

  1. teteh aku terharu bacanya.. :')
    Tetap semangat dan sabar ya teh menunggu si kecil sebagai pelengkap hidup :)
    -Risa-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasih Risa :* Minta doanya selalu ya :)

      ~Naya

      Delete
  2. :: tissue...tissue...mana tissue!!

    sy trus terang menangis teh bacanya. Sy sungguh salut dgn kesabaran teteh dan suami. May Allah always loves u both, as a complete family.#big hug

    @iicoet

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Ya Rabb... mksh doanya ya teh :)) *big hug

      Delete