“Perhaps you hate a thing
and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And
Allah knows while you know not“. [Quran 2: 216]
Dear readers and team...
I would like send a letter to all future mothers in the world.
Selamat Pagi Teman-Teman
Seperjuangan..
Bagaimana kabar kalian semua? Aku disini baik-baik. Kuharap kalian pun
baik sepertiku. Hari terasa amat singkat, bukan? Tak terasa kita sudah
mengarungi beribu-ribu hari dalam penantian ini ya. Jika kita semua dikumpulkan
dalam satu ruangan sekaligus, tentu akan ada banyak cerita haru-biru tentang
banyak hari yang menyesakkan. Iya, karena untuk kita semua setiap hari adalah
hari menunggu. Menunggu kapan malaikat-malaikat kecil bersemayam di rahim kita.
Mungkin terkadang lelah menunggu namun bukankah semakin bertambah hari, berarti
semakin bertambah dekat pula waktu itu akan tiba, bukan?
Selalu ada malam-malam yang kita tangisi sambil mempertanyakan banyak
hal, kan? Bertanya apa rasanya ada sesuatu yang hidup dalam tubuh kita.
Bertanya apa rasanya mendengar teriakan nyaring ditengah-tengah tempat tidur
kita. Bertanya apa rasanya hal pertama yang kita lihat di pagi hari adalah
senyum lucu dan mata bulat yang minta dicubit karena menggemaskan. Bertanya apa
rasanya dipanggil Ibu. Ah, teman-teman, apa rasanya ya?
Dan ini yang tak kalah berat. Akan selalu ada pertanyaan sama yang muncul
setiap kita bertemu dengan orang baru ataupun kawan yang sudah lama tak kita
temui. Pertanyaan yang sama dan terkadang mengiris-ngiris ulu hati ketika kita
sedang dalam ambang sensitivitas yang tinggi. Pertanyaan itu adalah; “Sudah punya anak?”. Deg. Lalu, kita pun
berusaha memberikan senyum dan berkata; “Belum.
Minta doanya, ya.” Sungguh tak ada yang salah memang dengan pertanyaan
mereka, hati kita saja yang mungkin sedang menanggung rindu yang teramat sangat
menjadi seorang Ibu.
Teman-teman tersayang,
Masih terngiang-ngiang ucapan seorang Ustadz bahwa ada yang harus
diluruskan dari hal yang tengah kita hadapi sekarang. Jangan mengucapkan: “Belum dikasih karena belum dipercaya.”
Lalu apakah berarti Tuhan lebih percaya memberikan malaikat-malaikatNya pada
orang-orang yang bahkan melakukan hubungan di luar pernikahan daripada kita
yang memang menempuh perjalanan baik-baik dengan menikah serta meminta memohon
dalam setiap doa? Tentu tidak, bukan?
“Belum waktunya.” tentu lebih
baik diucapkan. Iya, Tuhan punya skenario lain terhadap perjalanan kita.
Mungkin belum sekarang waktunya. Pasti Dia akan memberi namun kita masih
diharuskan menunggu dan bersabar. Mungkin Tuhan memang masih rindu mendengar
kita memohon dan sedang mempersiapkan sesuatu yang terbaik untuk kita. Tetaplah
berbaik sangka padaNya ya, teman-teman.
Masih banyak hal yang lebih patut kita syukuri daripada meratapi sesuatu
yang belum kita miliki. Aku rasa, jika kita mempunyai anak kelak, tentu pasti
akan menambah pundi-pundi kebahagiaan yang sudah kita miliki sekarang namun
bukan berarti belum mempunyai anak dapat mengurangi kebahagiaan yang sudah
Tuhan berikan. Lalu nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Aku sangat beruntung mempunyai suami yang selalu memberikan nasihat
sejuknya saat aku berkeluh-kesah tentang kerinduanku ini. Pernah dia berkata: “Sabar,
Sayang. Mungkin belum sekarang waktunya. Jika kita terus bersabar, Insyallah
kita akan mempunyai anak-anak yang lucu. Jika belum sekarang, mungkin nanti
sebentar lagi. Jika tidak di dunia ini, Insyaallah di Jannah-nya. Kamu mau
punya anak berapa? Lima? Tujuh? Sepuluh? Di JannahNya tinggal sebut saja berapapun
yang kamu mau. Tentu jika kita ikhlas menerima ini sebagai ketentuanNya.
InsyaAllah. “ Hati ini pun tenang seketika. Alhamdulillah.
Berbagai pengobatan alternatif sudah kami berdua jalani, empat dokter
spesialis kandungan sudah kami datangi sebagai bentuk ikhtiar. Namun, ternyata
Tuhan masih rindu mendengar doa-doa kami, itu yang selalu suamiku katakan. Bagaimana
dengan kalian? Semoga suami kalian pun selalu menjadi seseorang yang
menguatkan kalian ya. Aamiin.
Teman-teman tersayang,
Aku rasa cukup sekian. Teruslah bersemangat
menggapai hari. Teruslah berusaha dan berikhtiar. Teruslah belajar dan memantaskan
diri menjadi orang tua untuk anak-anak
kita kelak. Tuhan amat sayang pada kita dengan memberikan waktu lebih lama
untuk mempersiapkan menjadi orang tua terbaik. Sunggguh Tuhan amat sayang pada
kita.
Semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu dan saling bercerita. Saling menguatkan dan saling menyemangati. Tapi, bukankah doa adalah hal terindah yang mampu kita berikan saat tak bisa bertatap satu sama lain? Kita saling mendoakan ya, teman-teman.
Dari aku,
Perindu
anak-anak surga
~Naya
teteh aku terharu bacanya.. :')
ReplyDeleteTetap semangat dan sabar ya teh menunggu si kecil sebagai pelengkap hidup :)
-Risa-
Aamiin. Makasih Risa :* Minta doanya selalu ya :)
Delete~Naya
:: tissue...tissue...mana tissue!!
ReplyDeletesy trus terang menangis teh bacanya. Sy sungguh salut dgn kesabaran teteh dan suami. May Allah always loves u both, as a complete family.#big hug
@iicoet
Aamiin Ya Rabb... mksh doanya ya teh :)) *big hug
Deletesangat menyentuh, sistaa :')
ReplyDelete