Wednesday, July 30, 2014

Cerita di angkot senin pagi


“Kau tidak akan dapat memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya..hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya..”
Harper Lee
 
Dear Readers and Team...
Ini bisa dibilang my real experience tapi tentunya ditaburin bumbu imajinasi disana-sini biar jadi cerita yang apik. Hope u like it!
***
Waaah. Pasti telat. It’s almost eight a clock. Sial. Mata kuliah pertama jam 08.40 yang dipersembahkan oleh Ibu Diah yang terkenal karena on-time nya. Dispensasi hanya 10 menit itu pun mesti siap di repetin macem-macem. Hufftt. Angkot nya ngetem pulak. Terminal Kebon Kalapa pagi itu cukup ramai tapi sepertinya orang-orang enggan masuk ke angkot Kalapa-Ledeng yang aku tumpangi ini. Ah.
Daripada bengong dan makin risau melihat menit demi menit berlalu, aku iseng melihat-lihat penumpang yang ada dalam angkot saat itu. Nah ini salah satu moment favoritku ber-angkot ria. Selain terkadang mendapatkan percakapan ringan orang-orang yang lumayan buat inspirasi cerpen-cerpenku, aku juga suka iseng menebak-nebak perasaan penumpang dari raut wajahnya. Cukup membantu mengasah Interpersonal Skill-ku. Hihihi.
Let’s start. Aku duduk di pojok kaca besar sebelah kanan yang biasa diisi paksa 7 penumpang. Ini posisi favoritku. Soalnya gak akan keganggu orang yang turun-naik. Well, mood aku hari ini adalah cukup bersahabat kalau saja sekarang masih jam setengah 8. Inget Bu Diah yang lirikan mautnya kalau aku masuk kelas telat bikin mood aku buruk se-buruk-buruknya. Pakaian yang kukenakan hari ini jeans plus kemeja lengan pendek. Nothing special.
Tepat di depankuAda ibu-ibu berumur sekitar 40 tahun dengan wajah sangat mengantuk. Matanya udah 5 watt banget. Ibu itu mengenakan pakaian formal. Kayaknya mau ngantor. Hemm. Biasa aja.
Selanjutnya disebelah Ibu-Ibu ada lelaki muda yang lagi pake headset. Kepalanya mengangguk-angguk ringan mengikuti beat lagu. Umurnya sekitar 19 tahun. Mau kuliah kayak aku nampaknya. Pakaiannya jeans belel khas lelaki muda dengan kaos hitam polos, sepatu converse pendek hitam. Simpel. Less is more. Diliat-liat mirip artis yang itu siapa ya namanya. Oh yayaya. Rio Dewanto. Tapi ini Rio Dewanto versi muda. Manis juga. Lumayan bikin mata agak seger. Hahaha.
Well, mataku nampak terus berkeliling mencari mangsa lain untuk dikomentarin dalam hati. Tepat disebelahku ada gadis muda berambut sebahu. Aku susah memperhatikannya karena dia tepat duduk di sebelahku. Memakai rok dibawah lutut warna coklat kopi. Lalu beberapa kali memandang ke jendela di belakangnya. Resah. Mungkin dia hampir telat kayak aku. Tapi gak ada tanda-tanda dia mau kuliah sih. Maksudnya dia gak seperti bawa buku. Gak bawa tas juga nampaknya. Kulihat sekilas betisnya nampak memar. Hemm. Kenapa ya?
Terus, di sebelah perempuan berambut sebahu itu ada anak SMA lagi haha-hihi dengan temannya yang duduk di sebelah Rio Dewanto versi muda. Tipikal anak-anak SMA pada umumnya deh. Tanpa beban. Ngerumpi masalah segala macem. Berisik. Berdua tapi kayak bertujuh.
Terakhir, tepat di belakang Pak Supir ada Aa-Aa lagi ngeroko. Aku agak susah liat raut wajah dan stelan-nya soalnya agak jauh dari tempat dudukku tapi kayaknya mau kerja gitu. Bajunya semi-formal. Rambutnya disisir rapi ke samping.
Selesei. Jadi di angkot saat itu hanya ada 7 orang. Hufft. 4-3. Masih lama yah menuju 7-5 yang selalu diidam-idamkan sopir angkot. Hiks. Bye-bye Bu Diah.
Tiba-tiba, perempuan sebahu di sebelahku bergeser miring dan sekarang duduk menghadap aku. Aku kaget. Nah sekarang aku bisa melihat raut wajahnya. Raut wajah khawatir.
Trus dia berkata pelan sekali, “Teh, kemarin naik angkot ini?” Aku menggeleng. Jawaban aku antara tidak dan mana-gue-inget.
“Atau teteh naik angkot kalapa-ledeng juga gak kemarin?” Aku menggeleng lagi. Masih kaget aja diajak ngobrol tiba-tiba. Jadi semi bloon kayaknya wajah aku saat itu. Cuma bisa geleng-geleng kepala.
Dia melanjutkan lagi; “Teteh liat suami saya gak?”
“HAH?” suaraku agak kenceng saking surprise nya denger pertanyaan ketiga sang perempuan berambut sebahu. Ya-mana-gue-tau-suami-situ-yang-mana-kenal-juga kagak.
Ibu-ibu di depanku yang lagi nundutan agak kaget juga kayaknya. Melotot sebal ke arahku. Dua anak SMA pun sempat menoleh ke arahku. Percakapan mereka agak terhenti karena ucapan “HAH”ku. Aa-aa di pojok pun sempat menoleh padaku tapi cuek lagi meneruskan merokoknya. Sial. Malu banget. Oh hanya Rio Dewanto versi muda aja yang anteng dan gak menghakimi aku.
Sebelum pertanyaan menjurus ke hal-hal yang lebih absurd, aku buru-buru bilang: “Maaf ya Teh, kemarin saya gak kemana-mana. Gak naek angkot jadinya.” Akhirnya ada jawaban cerdas yang keluar dari mulutku selain geleng-geleng kepala. White lie. Boong demi kebaikan.
Ke-lima penumpang bareng menoleh ke arahku. Wajah mereka antara prihatin dan kaget. Termasuk si Rio Dewanto yang kayaknya udah matiin lagunya di MP3 playernya. Ih orang-orang segitu betenya karena kejadian “HAH” ku tadi ya emang?
Perempuan berambut sebahu itu malah turun dari angkot. Mungkin dia kecewa karena aku gak liat suaminya. Aduh apa sih. Lagian kenapa gak sekalian aja pertanyaannya adalah: “Teteh pacar suami saya ya?” Biar nambah lebih aneh lagi pertanyaannya. Yaaah. Nambah lama dong ngetemnya nih angkot.
Dua anak SMA itu lagi gosipin aku nih kayaknya. Bukannya berburuk sangka tapi lirikan mata mereka yang gak bisa diumpetin nunjukkin objek yang lagi mereka gosipin. Bodo amat. Aku melihat jam tangan sekali lagi. Berharap ada mukjizat tiba-tiba baru jam tujuh, misalnya.
Ibu-ibu di depanku kayaknya udah gak ngantuk lagi nih. Dia lagi ke-gap ngeliatin aku. Aku agak risih dipelototin gitu jadinya. Masih dendam ya bu tadi kebangun gara-gara teriakan aku? Ih jangan salahin aku dong. Salahin perempuan berambut sebahu yang ngajuin pertanyaan-pertanyaan aneh tadi. Untuk meredam kerisihanku, aku membuka novel dan sok-sok membaca. Padahal boro-boro bisa konsen baca. Bu Diah oh Bu Diah. Yang ada malah setiap halaman mendadak bergambar Bu Diah yang lagi bertanduk dan bertaring.
“Neng. Neng.” Ibu-Ibu di depanku beneran gak ngantuk lagi kayaknya. Suaranya kenceng bener. Dia manggil aku? Aku menurunkan novel dari muka ku perlahan dan bersikap se-anggun mungkin.
“Neng…” sekarang tangannya pake acara towel-towel lututku segala.
“Eh, ya Bu?”
“Tadi Neng bicara sama siapa?”
Semua penumpang di angkot menoleh (lagi) padaku dengan tatapan sama prihatinnya dengan Ibu-Ibu di depanku ini. Ibu-ibu yang sedang bertanya pertanyaan aneh keempat di angkot pagi ini. Oh Tidak!
The End

~Naya

3 comments:

  1. wah teh tu ibu kenapa ya? lanjutannya mana ni teh asa masih ngegantung hehe
    _Risa

    ReplyDelete
  2. Hehe.. krn sebenernya perempuan berambut sebahu itu gada yg liat kecuali aku, Risa..

    ~Naya

    ReplyDelete
  3. :: kereeeeeen...!!! Tuh kan, very very out of box pisan!! Good job teh..love it :)

    ReplyDelete