“Kau tidak akan dapat memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya..hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya..”
― Harper Lee
Dear Readers and Team...
Ini bisa dibilang my real experience tapi tentunya ditaburin bumbu imajinasi disana-sini biar jadi cerita yang apik. Hope u like it!
Waaah.
Pasti telat. It’s almost eight a clock. Sial. Mata kuliah pertama jam 08.40
yang dipersembahkan oleh Ibu Diah yang terkenal karena on-time nya. Dispensasi
hanya 10 menit itu pun mesti siap di repetin macem-macem. Hufftt. Angkot nya
ngetem pulak. Terminal Kebon Kalapa pagi itu cukup ramai tapi sepertinya
orang-orang enggan masuk ke angkot Kalapa-Ledeng yang aku tumpangi ini. Ah.
Daripada
bengong dan makin risau melihat menit demi menit berlalu, aku iseng
melihat-lihat penumpang yang ada dalam angkot saat itu. Nah ini salah satu
moment favoritku ber-angkot ria. Selain terkadang mendapatkan percakapan ringan
orang-orang yang lumayan buat inspirasi cerpen-cerpenku, aku juga suka iseng
menebak-nebak perasaan penumpang dari raut wajahnya. Cukup membantu mengasah
Interpersonal Skill-ku. Hihihi.
Let’s
start. Aku duduk di pojok kaca besar sebelah kanan yang biasa diisi paksa 7
penumpang. Ini posisi favoritku. Soalnya gak akan keganggu orang yang
turun-naik. Well, mood aku hari ini adalah cukup bersahabat kalau saja sekarang
masih jam setengah 8. Inget Bu Diah yang lirikan mautnya kalau aku masuk kelas
telat bikin mood aku buruk se-buruk-buruknya. Pakaian yang kukenakan hari ini
jeans plus kemeja lengan pendek. Nothing special.
Tepat
di depankuAda ibu-ibu berumur sekitar 40 tahun dengan wajah sangat mengantuk.
Matanya udah 5 watt banget. Ibu itu mengenakan pakaian formal. Kayaknya mau
ngantor. Hemm. Biasa aja.
Selanjutnya disebelah Ibu-Ibu ada lelaki muda yang lagi pake headset. Kepalanya mengangguk-angguk ringan mengikuti beat lagu. Umurnya sekitar 19 tahun. Mau kuliah kayak aku nampaknya. Pakaiannya jeans belel khas lelaki muda dengan kaos hitam polos, sepatu converse pendek hitam. Simpel. Less is more. Diliat-liat mirip artis yang itu siapa ya namanya. Oh yayaya. Rio Dewanto. Tapi ini Rio Dewanto versi muda. Manis juga. Lumayan bikin mata agak seger. Hahaha.
Selanjutnya disebelah Ibu-Ibu ada lelaki muda yang lagi pake headset. Kepalanya mengangguk-angguk ringan mengikuti beat lagu. Umurnya sekitar 19 tahun. Mau kuliah kayak aku nampaknya. Pakaiannya jeans belel khas lelaki muda dengan kaos hitam polos, sepatu converse pendek hitam. Simpel. Less is more. Diliat-liat mirip artis yang itu siapa ya namanya. Oh yayaya. Rio Dewanto. Tapi ini Rio Dewanto versi muda. Manis juga. Lumayan bikin mata agak seger. Hahaha.
Well,
mataku nampak terus berkeliling mencari mangsa lain untuk dikomentarin dalam
hati. Tepat disebelahku ada gadis muda berambut sebahu. Aku susah memperhatikannya
karena dia tepat duduk di sebelahku. Memakai rok dibawah lutut warna coklat
kopi. Lalu beberapa kali memandang ke jendela di belakangnya. Resah. Mungkin
dia hampir telat kayak aku. Tapi gak ada tanda-tanda dia mau kuliah sih.
Maksudnya dia gak seperti bawa buku. Gak bawa tas juga nampaknya. Kulihat
sekilas betisnya nampak memar. Hemm. Kenapa ya?
Terus,
di sebelah perempuan berambut sebahu itu ada anak SMA lagi haha-hihi dengan
temannya yang duduk di sebelah Rio Dewanto versi muda. Tipikal anak-anak SMA
pada umumnya deh. Tanpa beban. Ngerumpi masalah segala macem. Berisik. Berdua
tapi kayak bertujuh.
Terakhir,
tepat di belakang Pak Supir ada Aa-Aa lagi ngeroko. Aku agak susah liat raut
wajah dan stelan-nya soalnya agak jauh dari tempat dudukku tapi kayaknya mau
kerja gitu. Bajunya semi-formal. Rambutnya disisir rapi ke samping.
Selesei. Jadi di angkot
saat itu hanya ada 7 orang. Hufft. 4-3. Masih lama yah menuju 7-5 yang selalu
diidam-idamkan sopir angkot. Hiks. Bye-bye Bu Diah.
Tiba-tiba,
perempuan sebahu di sebelahku bergeser miring dan sekarang duduk menghadap aku.
Aku kaget. Nah sekarang aku bisa melihat raut wajahnya. Raut wajah khawatir.
Trus
dia berkata pelan sekali, “Teh, kemarin naik angkot ini?” Aku menggeleng.
Jawaban aku antara tidak dan mana-gue-inget.
“Atau
teteh naik angkot kalapa-ledeng juga gak kemarin?” Aku menggeleng lagi. Masih
kaget aja diajak ngobrol tiba-tiba. Jadi semi bloon kayaknya wajah aku saat
itu. Cuma bisa geleng-geleng kepala.
Dia
melanjutkan lagi; “Teteh liat suami saya gak?”
“HAH?”
suaraku agak kenceng saking surprise nya denger pertanyaan ketiga sang
perempuan berambut sebahu. Ya-mana-gue-tau-suami-situ-yang-mana-kenal-juga
kagak.
Ibu-ibu
di depanku yang lagi nundutan agak kaget juga kayaknya. Melotot sebal ke arahku.
Dua anak SMA pun sempat menoleh ke arahku. Percakapan mereka agak terhenti
karena ucapan “HAH”ku. Aa-aa di pojok pun sempat menoleh padaku tapi cuek lagi
meneruskan merokoknya. Sial. Malu banget. Oh hanya Rio Dewanto versi muda aja
yang anteng dan gak menghakimi aku.
Sebelum
pertanyaan menjurus ke hal-hal yang lebih absurd, aku buru-buru bilang: “Maaf
ya Teh, kemarin saya gak kemana-mana. Gak naek angkot jadinya.” Akhirnya ada
jawaban cerdas yang keluar dari mulutku selain geleng-geleng kepala. White lie.
Boong demi kebaikan.
Ke-lima
penumpang bareng menoleh ke arahku. Wajah mereka antara prihatin dan kaget.
Termasuk si Rio Dewanto yang kayaknya udah matiin lagunya di MP3 playernya. Ih orang-orang
segitu betenya karena kejadian “HAH” ku tadi ya emang?
Perempuan berambut sebahu
itu malah turun dari angkot. Mungkin dia kecewa karena aku gak liat suaminya.
Aduh apa sih. Lagian kenapa gak sekalian aja pertanyaannya adalah: “Teteh pacar
suami saya ya?” Biar nambah lebih aneh lagi pertanyaannya. Yaaah. Nambah lama
dong ngetemnya nih angkot.
Dua
anak SMA itu lagi gosipin aku nih kayaknya. Bukannya berburuk sangka tapi
lirikan mata mereka yang gak bisa diumpetin nunjukkin objek yang lagi mereka
gosipin. Bodo amat. Aku melihat jam tangan sekali lagi. Berharap ada mukjizat
tiba-tiba baru jam tujuh, misalnya.
Ibu-ibu
di depanku kayaknya udah gak ngantuk lagi nih. Dia lagi ke-gap ngeliatin aku.
Aku agak risih dipelototin gitu jadinya. Masih dendam ya bu tadi kebangun
gara-gara teriakan aku? Ih jangan salahin aku dong. Salahin perempuan berambut
sebahu yang ngajuin pertanyaan-pertanyaan aneh tadi. Untuk meredam kerisihanku,
aku membuka novel dan sok-sok membaca. Padahal boro-boro bisa konsen baca. Bu
Diah oh Bu Diah. Yang ada malah setiap halaman mendadak bergambar Bu Diah yang
lagi bertanduk dan bertaring.
“Neng.
Neng.” Ibu-Ibu di depanku beneran gak ngantuk lagi kayaknya. Suaranya kenceng
bener. Dia manggil aku? Aku menurunkan novel dari muka ku perlahan dan bersikap
se-anggun mungkin.
“Neng…”
sekarang tangannya pake acara towel-towel lututku segala.
“Eh,
ya Bu?”
“Tadi
Neng bicara sama siapa?”
Semua
penumpang di angkot menoleh (lagi) padaku dengan tatapan sama prihatinnya
dengan Ibu-Ibu di depanku ini. Ibu-ibu yang sedang bertanya pertanyaan aneh
keempat di angkot pagi ini. Oh Tidak!
The
End
~Naya
wah teh tu ibu kenapa ya? lanjutannya mana ni teh asa masih ngegantung hehe
ReplyDelete_Risa
Hehe.. krn sebenernya perempuan berambut sebahu itu gada yg liat kecuali aku, Risa..
ReplyDelete~Naya
:: kereeeeeen...!!! Tuh kan, very very out of box pisan!! Good job teh..love it :)
ReplyDelete