Hi readers, Hi teams!
Ini saya menulis sebuah cerpen yang ada unsur surat untuk temen nya. Diperbolehkan nggak? huuhehe...Enjoy reading ;)
***
Apakah Anda pernah
mendengar opini seperti ini,
“jika waktu kecil seseorang terbilang pintar sekali,
maka beranjak remaja atau dewasa kecerdasannya akan berkurang. Begitupun
sebaliknya, jika waktu kecil seseorang tidak pintar bahkan tergolong ‘kurang’ maka
beranjak remaja atau dewasa kecerdasannya justru akan meningkat.” Apakah Anda percaya terhadap opini tersebut? Atau
Anda merasa hal tersebut memang menimpa diri Anda sendiri? Hmm…
Aku sedang menatap
layar laptop ukuran 14 inch yang
sedari tadi menampilkan email balasan
dari seorang kawan lamaku sedari SD, yang berada di sebuah kota kecil di
Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Parepare. Beberapa hari yang lalu, aku
mengirimkan sebuah pesan singkat melalui gmail.com
untuk Wiwik di sana. Di seberang lautan luas, aku memang merindukan masa-masa
sekolah yang begitu penuh warna. Ada merah, kuning, hijau, pink hingga hitam sekaligus. Aku menghabiskan masa pendidikan
selama hampir 12 tahun di tanah Bugis! Tentu saja banyak suka dan duka yang
terekam menjadi jejak.
Sebuah opini di atas
tiba-tiba saja menggelitikku yang sedari tadi masih bingung memberikan
‘balasan’ atas rentetan pertanyaan yang diutarakan Wiwik melalui badan email. Sebenarnya tidak sulit sebab
pertanyaan Wiwik tidak mengandung rumus Matematika ataupun Fisika barang
sedikitpun. Namun yang mengusik perasaanku adalah bagaimana menjawab semua
pertanyaan Wiwik tanpa terlihat sombong ataupun pamer. Aduh, bagaiman ya…?
Untuk Andasie, Sahabatku…
Das, kudengar cerita dari Kepala Sekolah bahwa kau
berhasil mendapatkan beasiswa ke Eropa, dimana? Berarti kuliah S2 ya? Bagaimana
rasanya tinggal di negeri orang, Das? Kuyakin pasti pengalaman hidupmu kian
bertambah dan semakin matang. Lantas, apa kesibukamu sekarang? Dari sejumlah
foto yang kau posting di Facebook, rupanya kau sudah menjadi wanita karir ya?
Itukah alasannya mengapa kau tak datang pada acara Reuni Smansa akhir tahun
lalu?
Oiya, kau tahu tidak, Ria sudah menikah sejak
semester 3 dulu. Bahkan dia tidak menyelesaikan kuliahnya karena ‘MBA’, sayang
ya. Sedangkan Sasa tidak melanjutkan kuliahnya dan memilih menjadi honor di
Kantor DPRD, maklum Bapaknya kan sekarang terpilih menjadi anggota DPRD Kota
Parepare. Sementara Tria adalah rekan kerjaku saat ini di Rumah Sakit. Dulu pas
kuliah, dia tak bersinar lagi seperti sebelumnya. Bahkan aku sempat
mengalahkannya! Aku berhasil mengungguli sang juara kelas! Akulah Mahasiswa
Berprestasi 2 tahun berturut-turut., Das! Aneh ya hehehe…
Das, kutunggu balasanmu. Semoga kau sehat selalu.
Dari sahabatmu,
Wiwik.
Aku menggerak-gerakkan mouse tanpa arah di permukaan layar
laptop. Aku bingung karena belum menentukan akan darimana untuk memulai
menjawab pertanyaan Wiwik.
Ria, Sasa dan Tria.
Mereka adalah teman lamaku. Teman sejak duduk di bangku SD, SMP dan SMU! Itu
brarti hampir 12 tahun aku mengeyam pendidikan bersama ketiga/salah satu cewek
tersebut. Bahkan aku, Sasa dan Tria sempat bersekolah TK yang sama. Bosan?
Sebenarnya tidak, asalkan ketiganya tidak begitu sombong dan menyebalkan. Entah
aku yang iri atau apa, namun ketiganya selalu saja membuatku tak berdaya dan
terlihat bodoh!
Ingatanku melayang jauh
ke jaman sekolah Putih-Merah. Saat itu, aku yang sedari kelas 1 hingga kelas 5
tak pernah mendapatkan rangking sama sekali, sering menjadi bahan olok-olokan
ketiganya, khususnya pada saat penerimaan Rapor.
“Das, rangking berapa?”
tanya Tria. Diapun tersenyum kecut padaku.
Aku menarik napas
panjang dan menggeleng lemas, “nggak ada.”
Mereka pun tertawa. Aku
pasrah. Itulah kenyataannya, kolom Peringkat di Raporku memang selalu kosong
sama sekali, tanpa angka sebiji pun.
Di SD-ku dulu,
pembagian Rapor dilakukan pada sebuah Upacara yang diikuti oleh seluruh
murid-murid dari kelas 1 hingga kelas 6. Sementara itu, pihak sekolah juga sengaja
mengundang para orang tua/wali murid untuk ikut menyaksikan Upacara Pembagian
Rapor yang digelar melalui tenda yang telah disiapkan. Bagi yang mendapatkan
rangking 10 besar, ketika namanya disebutkan maka akan maju ke tengah lapangan
disaksikan seluruh peserta Upacara. Itu adalah tradisi yang diterapkan pihak
sekolah agar murid semakin bangga atas prestasinya sendiri, termasuk bagi para orang
tua. Ketiga temaku itulah yang selalu bergantian menempati posisi peringkat 1,
2 dan 3 di setiap Caturwulan. Sedangkan aku dan Wiwik? Tidak!
“kapan kita dipanggil
ke depan juga ya, Das?” tanya Wiwik datar.
“nggak tahu deh. Aku
nggak pernah dapat rangking soalnya!.” balasku lesu. Aku menyadari kapasitas
otakku sendiri. Bahkan aku sempat disuruh pulang oleh Ibu Guru Wali Kelas 3
hanya karena aku tak bisa menjawab 7x8. Ugh!
Kami hanya dapat
berdiri di barisan paling belakang sambil kelelahan karena menjulurkan leher
guna melihat siapa saja yang meraih peringkat. Di dalam hati, kami selalu
berharap akan mendapatkan kesempatan untuk ikut tampil bersama murid-murid
pintar itu. Semoga!
Namun hal tersebut
berubah ketika menginjak kelas 6 SD, karena akhirnya aku bisa berdiri bersama
murid ber-rangking lainnya walau harus berada diperingkat paling bontot, 10.
Tak apa, sebab inilah awal prestasiku. Semenjak itulah peringkatku bergerak naik
hingga mencapai puncak peringkat 1 pada SMP kelas 3. Itupun karena aku tidak
sekelas lagi dengan Ria, Sasa dan Tria. Namun setidaknya secara Peringkat Umum
Sekolah, aku berada di posisi ketiga setelah Tria dan Sasa. Sedangkan Ria
meraih peringkat setelah aku.
Berlanjut ke SMU, aku
telah perpisah dengan Tria dan Sasa karena mereka melanjutkan pendidikan ke
sekolah ber-asrama. Aku, Wiwik dan Ria melanjutkan sekolah di sebuah SMU Negeri
namun berbeda kelas. Aku semakin ‘bersinar’ setelah menjadi juara dalam sebuah
ajang Pidato Bahasa Inggris Se-Kota Parepare. Rangkingku pun tak tergoyahkan
selama 3 tahun seperti tertancap di angka pertama. Ria tak lagi menunjukkan
tajinya seperti jaman SD dulu. Dia justru lebih sibuk dalam pergaulan mengikuti
masa pubernya. Prestasinya kian meredup, diikuti prestasi Tria dan Sasa. Di
akhir masa SMU, aku pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sebuah
Sekolah Bisnis terkenal di Kota Bandung karena berhasil diterima tanpa tes.
“Wik, aku akan lanjut
kuliah di Bandung. Kamu bagaimana?” tanyaku suatu saat ketika Acara Perpisahaan
Siswa Kelas 3 diselenggarakan oleh pihak sekolah.
“aku kuliah di Makassar,
Das. Senang ya kamu bisa lanjut di kota besar.” balasnya. Wiwik tak dapat ikut
bersamaku karena keterbatasan ekonomi orang tuanya.
Parepare adalah sebuah
kota kecil. Berita apapun akan cepat tersebar. Kudengar Tria melanjutkan
studinya di Fakultas Kesehatan Masyarakat pada universitas Ayam Jantan di
Makassar. Sasa melanjutkan pedidikannya di sebuah Sekolah Ekonomi yang terdapat
di Kota Parepare. Sedangkan Ria akan mengenyam pendidikan di Provinsi Sulawesi
Utara karena mengikuti orang tua yang merantau di sana.
Prestasiku menggila
karena aku menyelesaikan studi dengan waktu yang lebih cepat dan membawa gelar Cum Laude dengan IPK yang nyaris
sempurna ke hadapan orang tuaku. Ku upload
semua foto-foto wisudaku ke Facebook
dengan maksud sedikit pamer, agar ‘mereka’ lihat bagaimana peningkatanku
sekarang. Tria pun memberikan jempol ‘like’nya
pada fotoku dimana tergambar jelas aku lebih dulu bertoga ketimbang dirinya.
Setelah lulus, aku pun mendapatkan tawaran bekerja di sebuah perusahaan
konstruksi dan Building Management
yang berada di bawah naungan perusahaan Telkom serta melanjutkan studi MBA di
University of Nicosia, Cyprus, melalui program beasiswa penuh selama 1,5 tahun.
Bermodalkan Ijazah S2, aku pun melamar untuk menjadi dosen di Almamaterku
tercinta. Jadilah saat ini aku mengabdikan ilmuku sebagai seorang dosen
sekaligus praktisi yaitu sebagai Building
Management Business Director.
Opini di awal cerita adalah
sebuah bukti nyata yang terjadi padaku dan Wiwik. Aku yang dahulu dianggap
sebagai murid yang ‘kurang’ namun sekarang banyak orang yang justru mengagumi
isi kepalaku. Inikah pembuktianku untuk mereka? Aku menarik nafas dalam. Aku
pun mulai mengetik balasan email untuk Wiwik.
Dear Wiwik,
Apakah kau bersedia datang ke Bandung, Wik? Akan
kujawab semua pertanyaanmu dengan panjang lebar. Kalau perlu kita begadang
hehehe…Tenang, aku yang akan menanggung semua biaya tiketmu…bagaimana?
Best Regards,
Temanmu
Kutekan tombol Enter. Send.
Tuh kaaaannn.. as always. Bikin penasaran!! Love it, Teh :))
ReplyDelete~Naya
:: Terimakasih banyak ya Teh.
ReplyDeletePenasaran? huuheheheh...Jadi ceritanya nyambung nggak sama tema Surat?? #hope so
Wah teteh keren.. dulu aku juga SD kaya gitu semoga aja sekarang bisa jadi lebih baik dan berprestasi kayak teteh jugaa.. (aamiin)
ReplyDelete_risa