Tuesday, July 15, 2014

Bukti Intelektualisme Untuk Kawan Lama


Hi readers, Hi teams!
Ini saya menulis sebuah cerpen yang ada unsur surat untuk temen nya. Diperbolehkan nggak? huuhehe...Enjoy reading ;)
***


Apakah Anda pernah mendengar opini seperti ini,

“jika waktu kecil seseorang terbilang pintar sekali, maka beranjak remaja atau dewasa kecerdasannya akan berkurang. Begitupun sebaliknya, jika waktu kecil seseorang tidak pintar bahkan tergolong ‘kurang’ maka beranjak remaja atau dewasa kecerdasannya justru akan meningkat.” Apakah Anda percaya terhadap opini tersebut? Atau Anda merasa hal tersebut memang menimpa diri Anda sendiri? Hmm…

Aku sedang menatap layar laptop ukuran 14 inch yang sedari tadi menampilkan email balasan dari seorang kawan lamaku sedari SD, yang berada di sebuah kota kecil di Provinsi Sulawesi Selatan, Kota Parepare. Beberapa hari yang lalu, aku mengirimkan sebuah pesan singkat melalui gmail.com untuk Wiwik di sana. Di seberang lautan luas, aku memang merindukan masa-masa sekolah yang begitu penuh warna. Ada merah, kuning, hijau, pink hingga hitam sekaligus. Aku menghabiskan masa pendidikan selama hampir 12 tahun di tanah Bugis! Tentu saja banyak suka dan duka yang terekam menjadi jejak.

Sebuah opini di atas tiba-tiba saja menggelitikku yang sedari tadi masih bingung memberikan ‘balasan’ atas rentetan pertanyaan yang diutarakan Wiwik melalui badan email. Sebenarnya tidak sulit sebab pertanyaan Wiwik tidak mengandung rumus Matematika ataupun Fisika barang sedikitpun. Namun yang mengusik perasaanku adalah bagaimana menjawab semua pertanyaan Wiwik tanpa terlihat sombong ataupun pamer. Aduh, bagaiman ya…?

Untuk Andasie, Sahabatku…
Das, kudengar cerita dari Kepala Sekolah bahwa kau berhasil mendapatkan beasiswa ke Eropa, dimana? Berarti kuliah S2 ya? Bagaimana rasanya tinggal di negeri orang, Das? Kuyakin pasti pengalaman hidupmu kian bertambah dan semakin matang. Lantas, apa kesibukamu sekarang? Dari sejumlah foto yang kau posting di Facebook, rupanya kau sudah menjadi wanita karir ya? Itukah alasannya mengapa kau tak datang pada acara Reuni Smansa akhir tahun lalu?

Oiya, kau tahu tidak, Ria sudah menikah sejak semester 3 dulu. Bahkan dia tidak menyelesaikan kuliahnya karena ‘MBA’, sayang ya. Sedangkan Sasa tidak melanjutkan kuliahnya dan memilih menjadi honor di Kantor DPRD, maklum Bapaknya kan sekarang terpilih menjadi anggota DPRD Kota Parepare. Sementara Tria adalah rekan kerjaku saat ini di Rumah Sakit. Dulu pas kuliah, dia tak bersinar lagi seperti sebelumnya. Bahkan aku sempat mengalahkannya! Aku berhasil mengungguli sang juara kelas! Akulah Mahasiswa Berprestasi 2 tahun berturut-turut., Das! Aneh ya hehehe… 

Das, kutunggu balasanmu. Semoga kau sehat selalu.

Dari sahabatmu,
Wiwik.

Aku menggerak-gerakkan mouse tanpa arah di permukaan layar laptop. Aku bingung karena belum menentukan akan darimana untuk memulai menjawab pertanyaan Wiwik.

Ria, Sasa dan Tria. Mereka adalah teman lamaku. Teman sejak duduk di bangku SD, SMP dan SMU! Itu brarti hampir 12 tahun aku mengeyam pendidikan bersama ketiga/salah satu cewek tersebut. Bahkan aku, Sasa dan Tria sempat bersekolah TK yang sama. Bosan? Sebenarnya tidak, asalkan ketiganya tidak begitu sombong dan menyebalkan. Entah aku yang iri atau apa, namun ketiganya selalu saja membuatku tak berdaya dan terlihat bodoh!

Ingatanku melayang jauh ke jaman sekolah Putih-Merah. Saat itu, aku yang sedari kelas 1 hingga kelas 5 tak pernah mendapatkan rangking sama sekali, sering menjadi bahan olok-olokan ketiganya, khususnya pada saat penerimaan Rapor.

“Das, rangking berapa?” tanya Tria. Diapun tersenyum kecut padaku.

Aku menarik napas panjang dan menggeleng lemas, “nggak ada.”

Mereka pun tertawa. Aku pasrah. Itulah kenyataannya, kolom Peringkat di Raporku memang selalu kosong sama sekali, tanpa angka sebiji pun.

Di SD-ku dulu, pembagian Rapor dilakukan pada sebuah Upacara yang diikuti oleh seluruh murid-murid dari kelas 1 hingga kelas 6. Sementara itu, pihak sekolah juga sengaja mengundang para orang tua/wali murid untuk ikut menyaksikan Upacara Pembagian Rapor yang digelar melalui tenda yang telah disiapkan. Bagi yang mendapatkan rangking 10 besar, ketika namanya disebutkan maka akan maju ke tengah lapangan disaksikan seluruh peserta Upacara. Itu adalah tradisi yang diterapkan pihak sekolah agar murid semakin bangga atas prestasinya sendiri, termasuk bagi para orang tua. Ketiga temaku itulah yang selalu bergantian menempati posisi peringkat 1, 2 dan 3 di setiap Caturwulan. Sedangkan aku dan Wiwik? Tidak!

“kapan kita dipanggil ke depan juga ya, Das?” tanya Wiwik datar.

“nggak tahu deh. Aku nggak pernah dapat rangking soalnya!.” balasku lesu. Aku menyadari kapasitas otakku sendiri. Bahkan aku sempat disuruh pulang oleh Ibu Guru Wali Kelas 3 hanya karena aku tak bisa menjawab 7x8. Ugh!

Kami hanya dapat berdiri di barisan paling belakang sambil kelelahan karena menjulurkan leher guna melihat siapa saja yang meraih peringkat. Di dalam hati, kami selalu berharap akan mendapatkan kesempatan untuk ikut tampil bersama murid-murid pintar itu. Semoga!

Namun hal tersebut berubah ketika menginjak kelas 6 SD, karena akhirnya aku bisa berdiri bersama murid ber-rangking lainnya walau harus berada diperingkat paling bontot, 10. Tak apa, sebab inilah awal prestasiku. Semenjak itulah peringkatku bergerak naik hingga mencapai puncak peringkat 1 pada SMP kelas 3. Itupun karena aku tidak sekelas lagi dengan Ria, Sasa dan Tria. Namun setidaknya secara Peringkat Umum Sekolah, aku berada di posisi ketiga setelah Tria dan Sasa. Sedangkan Ria meraih peringkat setelah aku.

Berlanjut ke SMU, aku telah perpisah dengan Tria dan Sasa karena mereka melanjutkan pendidikan ke sekolah ber-asrama. Aku, Wiwik dan Ria melanjutkan sekolah di sebuah SMU Negeri namun berbeda kelas. Aku semakin ‘bersinar’ setelah menjadi juara dalam sebuah ajang Pidato Bahasa Inggris Se-Kota Parepare. Rangkingku pun tak tergoyahkan selama 3 tahun seperti tertancap di angka pertama. Ria tak lagi menunjukkan tajinya seperti jaman SD dulu. Dia justru lebih sibuk dalam pergaulan mengikuti masa pubernya. Prestasinya kian meredup, diikuti prestasi Tria dan Sasa. Di akhir masa SMU, aku pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sebuah Sekolah Bisnis terkenal di Kota Bandung karena berhasil diterima tanpa tes.

“Wik, aku akan lanjut kuliah di Bandung. Kamu bagaimana?” tanyaku suatu saat ketika Acara Perpisahaan Siswa Kelas 3 diselenggarakan oleh pihak sekolah.

“aku kuliah di Makassar, Das. Senang ya kamu bisa lanjut di kota besar.” balasnya. Wiwik tak dapat ikut bersamaku karena keterbatasan ekonomi orang tuanya.

Parepare adalah sebuah kota kecil. Berita apapun akan cepat tersebar. Kudengar Tria melanjutkan studinya di Fakultas Kesehatan Masyarakat pada universitas Ayam Jantan di Makassar. Sasa melanjutkan pedidikannya di sebuah Sekolah Ekonomi yang terdapat di Kota Parepare. Sedangkan Ria akan mengenyam pendidikan di Provinsi Sulawesi Utara karena mengikuti orang tua yang merantau di sana.

Prestasiku menggila karena aku menyelesaikan studi dengan waktu yang lebih cepat dan membawa gelar Cum Laude dengan IPK yang nyaris sempurna ke hadapan orang tuaku. Ku upload semua foto-foto wisudaku ke Facebook dengan maksud sedikit pamer, agar ‘mereka’ lihat bagaimana peningkatanku sekarang. Tria pun memberikan jempol ‘like’nya pada fotoku dimana tergambar jelas aku lebih dulu bertoga ketimbang dirinya. Setelah lulus, aku pun mendapatkan tawaran bekerja di sebuah perusahaan konstruksi dan Building Management yang berada di bawah naungan perusahaan Telkom serta melanjutkan studi MBA di University of Nicosia, Cyprus, melalui program beasiswa penuh selama 1,5 tahun. Bermodalkan Ijazah S2, aku pun melamar untuk menjadi dosen di Almamaterku tercinta. Jadilah saat ini aku mengabdikan ilmuku sebagai seorang dosen sekaligus praktisi yaitu sebagai Building Management Business Director.

Opini di awal cerita adalah sebuah bukti nyata yang terjadi padaku dan Wiwik. Aku yang dahulu dianggap sebagai murid yang ‘kurang’ namun sekarang banyak orang yang justru mengagumi isi kepalaku. Inikah pembuktianku untuk mereka? Aku menarik nafas dalam. Aku pun mulai mengetik balasan email untuk Wiwik.

Dear Wiwik,

Apakah kau bersedia datang ke Bandung, Wik? Akan kujawab semua pertanyaanmu dengan panjang lebar. Kalau perlu kita begadang hehehe…Tenang, aku yang akan menanggung semua biaya tiketmu…bagaimana?

Best Regards,

Temanmu
 
Kutekan tombol Enter. Send.

3 comments:

  1. Tuh kaaaannn.. as always. Bikin penasaran!! Love it, Teh :))

    ~Naya

    ReplyDelete
  2. :: Terimakasih banyak ya Teh.

    Penasaran? huuheheheh...Jadi ceritanya nyambung nggak sama tema Surat?? #hope so

    ReplyDelete
  3. Wah teteh keren.. dulu aku juga SD kaya gitu semoga aja sekarang bisa jadi lebih baik dan berprestasi kayak teteh jugaa.. (aamiin)

    _risa

    ReplyDelete