Friday, July 4, 2014

Menemui Roti Mantau



Mantau oh mantau, what a delicious bread!
Hari ini adalah hari pertama aku berada di kota Parepare ini, setelah 4 tahun lamanya aku melajutkan studi ke Bandung. Hal pertama yang ingin kulakukan adalah membeli roti mantau di Toko Sinar Terang!
“Ci, roti mantau-nya sebungkus ya!” kataku pada seorang wanita.
“Ahong, roti mantau sebungkus…!” teriak wanita tersebut kepada seseorang.
“si Ahong nggak ada, kemana sih dia?” seseorang muncul sambil membawa sebungkus roti mantau. “ini siapa yang pesan ro…ti…m…an…” kalimatnya terputus ketika melihatku. Aku mengembangkan senyum semanis mungkin. Seorang pria muda berwajah oriental terpaku menatapku. Dialah Wilson Tandrasosmijaya Wong, pacarku. Kami berdua saling pandang. Jantungku berdebar kencang seperti genderang mau perang!
“Fa..rah..” katanya.
Aku mengangguk berlahan. Dia pun meletakkan bungkusan roti mantau di atas meja dan berjalan menuju ke arahku. Ya, wajar jika dia terkejut sebab aku memang tak memberitahu perihal kedatanganku padanya.
“Hai Dear?” desahku lembut.
Dia pun tersenyum. Deretan giginya yang putih bersih berbaris rapi tanpa cela.
 “kenapa tidak beritahu aku jika kau datang, Farah!” tanyanya. Matanya dipenuhi kerinduan, begitupun aku.
Aku dan Wilson pada mulanya hanyalah teman kelas biasa namun entah apa yang membuat Wilson tertarik padaku padahal aku bukan keturunan Tionghoa. Sebab tahuku, kebanyakan teman-temanku yang berwajah oriental lebih senang berkumpul dan bersama dengan teman-teman lainnya yang kurang lebih mirip. Ya, Wilson berpenampilan menarik, cerdas dan wajah orientalnya sungguh mempesona. Kala itu aku membayangkan gadis seperti apa yang beruntung dapat meluluhkan hatinya. Ternyata akulah orangnya. Cihuuy…!
Pada awal jalinan kasih, aku dan Wilson begitu menikmati kebersamaan kami. Latar belakang masing-masing dari kami yang jauh berbeda membuat kami justru terlihat lebih istimewah. Aku dan Wilson bagaikan kopi dan susu. Wilson susunya, aku kopinya! Heheh…Selain itu, wajah oriental Wilson yang begitu khas sangat bertolak belakang dengan wajahku yang bermata bulat. Tapi urusan isi otak, aku tak mau kalah darinya. Kami sering berebut peringkat kelas melalui persaingan yang fair. Pokoknya berpacaran dengannya membuatku menjadi lebih pandai, dewasa dan mendapatkan ilmu bisnis yang begitu berharga. Maklum, kebanyakan keturunan Chinese lebih diajarkan keterampilan berdagang oleh orang tuanya disamping keterampilan hidup lainnya. Salut!
Satu hal yang paling sering dilakukan Wilson apabila kami sedang bertengkar adalah kebiasaannya membuatkan roti mantau, sejenis roti berbentuk persegi yang dapat langsung dimakan atau digoreng. Rasanya sangat manis walau tak ditambahan item lainnya.
“Farah jangan marah lagi ya sayang. Ini roti mantau spesial untuk kamu.” katanya suatu hari pada saat aku marah padanya yang tak datang menjemputku.
“sebungkus ini adalah buatanku sendiri loh sayang!” jelasnya. So sweet!
***
Aku duduk di pinggir tanggul dengan mata memadang ke arah laut lepas nan biru. Sunset memberikan gradasi warna tersendiri yang sungguh indah antara orange dan biru. Di pinggir pantai ini, aku menikmati roti mantau yang putih bersih. Aku mencium aromanya dan mulai menggigitnya. Kontan saja rasa manis memenuhi ruang mulutku dan akupun ketagihan untuk melakukan gigitan kedua, ketiga dan selanjutnya. Wilson menggenggam tanganku erat. Rasa roti mantau memang tak pernah berubah, selalu saja manis menggugah selera, semanis cintaku bersama Wilson!J

Untul Wilson, ni hao ma?
  *** 
Hi readers, Hi teams!

Itu hanya penggalan cerita singkat yang saya tulis huehhe...Tokoh yang ada dalam cerita...hmmm, sebenarnya....hmm...(tunduk malu-malu). Tapi udah ahh, malu kalo diterusin hihihi....;D

Ada yang tahu Roti Mantau? Nah, mungkin inilah makanan yang paling saya suka diantara kalangan kudapan-kudapan lainnya. Ini menjadi salah satu roti yang paling khas dari Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Biasa dijadikan oleh-oleh loh...!! Soal rasa, hmm......jangan ditanya! WEENAAAK TENAN!!!

Dahulu, waktu saya masih tinggal sendiri di Bandung, setiap kali orang tua saya datang berkunjung, selalu saya memohon agar dibawakan Roti Mantau as much as they can bring. Maklum, buat cadangan si anak kos! Karena roti ini bisa disimpan cukup lama di kulkas, asal di freezer nya yaa..Beku dong?! Biarin aja! karena justru kalau beku, jadi aman, nggak akan cepet basi...

Memang, denyut nadi perekonomian Kota Parepare paling didominasi oleh sektor perdagangan, termasuk adalah usaha kecil dan menengah (yaitu industri rumah tangga). Nah, produk Roti Mantau ini termasuk kedalam usaha rumah tangga yang sudah tersohor. Roti khas ini telah menjadi salah daya tarik bagi mereka yang berkunjung ke Parepare. Meski bentuknya sama dengan roti pada umumnya, begitu juga bahan yang digunakan yaitu terbuat dari terigu, tapi itu loh warnanya yang putih bersih, cantik dan menggoda telah menjadi sesuatu bangeeeetttt (kata Syahrini) untuk mau berkunjung lagi ke Kota Parepare, and at the end, beli lagi deh si roti itu.
Salah satu penjual roti Mantuo terkenal di Parepare adalah buatan Heryadi Thamrin. Usaha jualan kue termasuk roti Mantuo dilakoninya sejak tahun 1978, namun khusus roti mantou baru ramai dipasarkan nanti tahun 2007. Awalnya dia dapat ole-ole dari keluarga di Jakarta, dan setelah dicoba dibuat dan dipasarkan, ternyata peminatnya banyak.



Roti yang terbuat dari tepung terigu ini sangat beda dengan roti umumnya yang banyak di jual di toko-toko atau kios, terutama dalam hal rasa dan kelezatannya. Roti Mantou dapat dimakan begitu saja sambil minum teh atau kopi, namun lebih lezat kalau digoreng atau dikukus sebelum dimakan. Bila digoreng mengelurkan aroma khas yang menggugah selera untuk memakannya. Soal harga, beeuuhh......MURAH BINGGIITSSS! Satu bungkus plastik yang terdiri dari 3 potong roti Mantuo, harganya Rp.3.500.

Dalam sehari rata-rata terjual hingga 500 bungkus. Pembelinya bukan hanya orang Parepare, nuan juga pembeli yang datang dari daerah kabupaten tetangga yang ada di sekitar kota Parepare, bahkan bayak yang warga dari Makassar atau dari luar Sulawesi Selatan membelinya sebagai ole-ole khas Parepare.

Well readers and teams, mau nyoba Roti Mantau nggak? hihihi.. :D

2 comments:

  1. Awal cerita nya bikin senyum2 sendiri. Good opening! Nah aku slalu nunggu point of view penulis seperti ini, teh :)
    Daaaaaan.. mauuuu rotinyaaaa!


    ~Naya

    ReplyDelete
  2. membaca tulisan diatas membuat pikiranku melayang ke saat 16 thn yg lalu. sy org betawi yg sangat tau tentang parepare. kok tau ? kan org betawi terkenal jarang kemana2 ? ya memang...sy bisa kesana dulu gara2 ikut jd peserta ppap selama 3 bln di sulsel diantaranya 1 bln diparepare. byk kisah yg sy dpt saat disana. sy dpt pacar cewek asli lumpue parepare, kami brdua sering ke pemandian lumpue, kami sering kepasar dan pantai senggol,ke sejahtera dept store dan lain2. penuh kenangan... apa hubungannya dgn kue mantao? ada. 3 hr yg lalu temanku dari parepare datang ke jakarta dalam rangka dinas kantor. dia sempat menemuiku dan membawakan oleh2 dua bungkus mika besar kue mantao....enak bgt

    ReplyDelete