Thursday, July 24, 2014

Si Bulu Putih Untuk Sang Aktivis



“Sheila, Bang Yahya ada di ruang BEM nggak?”
“Nina? eh, tumben ke sini? Ada apa?” tanya Sheila.
“gue nyari Bang Yahya nih!! Dia kemana sih?” kata Nina. Dia melemparkan pandangannya ke sudut ruangan BEM. “lue liat dia nggak?”
“oh. Bang Yahya itu lagi demo di depan gedung Sate, Neng!! Lue emangnya nggak tahu?” jawab Sheila enteng.
“ha? Serius lue?! Gue pikir demonya minggu depan!” Nina mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat tanggal berapakah gerangan hari ini.
“wah, gini nih kalau nggak tahu agendanya BEM. Lue gimana sih? Ngakunya pacarnya ketua BEM, masa agenda mahasiswa nomor satu sekampus, lue enggak tahu!! Parah banget! Cewek macam apaan lue! Kenapa Bang Yahya mau sih pacaran sama orang kayak elu?!” tukas Sheila seenaknya tanpa memikirkan perasaan Nina.
Nina berang. Dia tesinggung dengan apa yang diucapkan Sheila. Matanya langsung melotot pada gadis berkulit sawo matang tersebut.
“hei! Maksud lue apa sih? Kenapa jadi elu yang sewot dan menilai gue sebagai cewek yang salah buat Bang Yahya? Apa uru……”
“kalau elu emang pacar yang baik, mestinya lue tahu dong dimana dia, lagi ngapain, apa yang sedang didemo dan diperjuangin. Peduli sedikit kek dengan aktivitas BEM-nya Bang Yahya.” balas Sheila tak kalah ngotot.
Nina speechless.
“setidaknya gue dan Bang Yahya memiliki profesi yang sama, yaitu kami seorang aktivis. Daripada elu, elu cuma fokus sama diri sendiri doang!!” setelah mengatakan hal tersebut, Sheila pergi begitu saja. Dia meninggalkan Nina yang masih merenungi apa inti kalimat Sheila. Diam-diam dia menyesal telah bertanya kepada orang yang salah. Dasar cewek ganjen! gumam Nina dongkol.
Apa yang dikatakan Sheila sedikit ada benarnya. Nina mengakui selama ini dia memang tidak pernah mau memperdulikan aktivitas BEM pacarnya.
Nina adalah mahasiswa jenius yang sehari-hari lebih dikenal sebagai Asisten Dosen untuk mata kuliah Matematika Ekonomi. Sedangkan Bang Yahya, adalah orang yang paling popular dan digandrungi oleh banyak mahasiswa sebagai Ketua BEM.
Bang Yahya pernah meminta Nina untuk mengajarkannya mata kuliah Matematika Ekonomi. Nina pun bersedia membantu. Setelah asistensi berakhir, akhirnya Bang Yahya mencoba mendekati Nina untuk urusan hati. Didukung karakternya sebagai orang Sumatera asli, Bang Yahya to the point tentang perasaannya. Tanpa ragu, Nina pun menerima Bang Yahya. Kabar jalinan kasih dua insan muda tersebut langsung tersebar dan mematahkan hati cewek-cewek sekampus yang naksir sang aktivis.
Nina menatap sebuah kotak cokelat putih yang sedari tadi ditangannya. Makhluk hidup di dalamnya bergerak-gerak seperti minta kebebasan. Nina melirik sedikit dari celah kecil yang dibuatnya pada bagian atas kotak. Si bulu putih itu menatap balik ke arah Nina tanpa mengerti apa yang terjadi di luar kotak.
“Pus, pus, Abang Yahya-nya nggak ada… Kamu jangan sedih ya!” ujar Nina.
Hari ini adalah hari ulang tahun Bang Yahya. Nina tahu betul bahwa pacarnya itu sangat menyukai kucing, apalagi yang berbulu putih bersih. Nina sudah menyiapkan hadiah sederhana itu sejak lama. Tapi kini hatinya “tertampar”. Tanpa sadar airmatanya menetes membasahi kotak sementara si bulu putih semakin bergerak-gerak di dalamnya.
            Nina akhirnya menitipkan kotak tersebut kepada Mas Deni, anggota BEM lain yang bisa dipercayainya. Tak lupa dia mengirimkan pesan singkat selamat ulang tahun untuk Bang Yahya. Dia sadar bahwa dirinya belum bisa menjadi pacar yang baik.
***
            Nina bangkit dari bangku di halte. Belum sempat dia menginjak tangga bus, tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Nina terkejut dan segera berbalik.
            Lelaki berhidung mancung itu mengembangkan senyum manisnya. “sayangku…” ucapnya lembut.
            Nina tak kuasa lagi. Dia menjatuhkan badanya ke pelukan Bang Yahya. “maaf, aku nggak pernah tahu apa saja kegiatan seorang aktivis, Bang!! Jadwal demonya, apa pelanggaran yang sedang diperjuangkan dan …” kata Nina terbata-bata dalam pelukan Bang Yahya. Airmatanya mengalir deras.
            “maaf Bang, aku…hiks..hiks…” Nina terisak sedih. Bang Yahya terdiam. Cinta sungguh ajaib! Ia mampu menaklukkan seorang narator ulung terkulai lemas oleh cinta.
            “seorang aktivis juga nggak pernah tahu jadwalnya Asisten Dosen, sayang!” kata Bang Yahya mengusap rambut Nina lembut.
            “aktivis kayak Abang cuma seneng main sama anak kucing putih doang, apalagi kalau anak kucing lucu kayak gini, Abang betah!!” goda Bang Yahya. “tuh, lihat. Meong…meong…minta dikasih makan…heheheh.”
            “ABANG!!!!!”
            Kedua muda mudi tersebut pun mengalihkan pandangan kepada si pemilik bulu putih yang sedari tadi manja di tangan Bang Yahya. Mereka sepakat memberinya nama Cilo, entah apa hubungannya dengan warna putih bersih si kucing. Bodo amat.
            Dan seekor anak kucing mampu menciptakan kesenangan tanpa memandang profesi. Meong! J
***

5 comments:

  1. Klo terlihat sekilas, Teh Inong itu tipe pejuang. Kalau jadi dewi, yg paling cocok menurut aku Dewi Perang. Dewi Perang yg siap memberangus org2 yg semena2. Aku sangat salut sisi ekstrovert teh inong bisa ditransfer jd sesuatu yg sekalu bermanfaat. Keren. Trus apa hubungannya sm cerpen ini? Ada dooong.. se-pejuang2nya seorang wanita pasti pny sisi romantis nya. Yup, I think this is so romantic story walau berlatar aktivis tg lg demo. very like it. Teh Inong bangeddd! :D

    ~Naya

    ReplyDelete
  2. :: Dewi Pejuang? Hm, sounds great yabteh! Hueheh...Dan jika halbtersebut terjadi, maka yg paling utama akan sy lakukan adalah sapu bersih para koruptor kepar*t yg ada di Indo. Mereka lah sebenarnya penjahat negara yg paling kejam!!

    Eits, jangan salah teh..justru sy orgnya sgt romantis loh! Buktinya, lagu kesukaan sy adalah lagu2 Oldies barat era tahun 90an. Sungguh memorable songs! Hehe

    terimakasih teh ats pujiannya! Sy mkin smangat menulis teh, dgn terus mengembangkan ide2 yg lebih bervariasi...ye ye ye!!

    ReplyDelete
  3. Cie teteh genre roman gini ehehe.. pertanda kah? *eh
    _Risa

    ReplyDelete
  4. :: pertanda apa nih Dek Risa?? Hueheheh...perjelas doong...hihihi..

    @iicoet

    ReplyDelete