“Sheila, Bang Yahya ada
di ruang BEM nggak?”
“Nina? eh, tumben ke
sini? Ada apa?” tanya Sheila.
“gue nyari Bang Yahya
nih!! Dia kemana sih?” kata Nina. Dia melemparkan pandangannya ke sudut ruangan
BEM. “lue liat dia nggak?”
“oh. Bang Yahya itu
lagi demo di depan gedung Sate, Neng!!
Lue emangnya nggak tahu?” jawab Sheila enteng.
“ha? Serius lue?! Gue
pikir demonya minggu depan!” Nina mengerutkan keningnya, mencoba
mengingat-ingat tanggal berapakah gerangan hari ini.
“wah, gini nih kalau
nggak tahu agendanya BEM. Lue gimana sih? Ngakunya pacarnya ketua BEM, masa
agenda mahasiswa nomor satu sekampus, lue enggak tahu!! Parah banget! Cewek
macam apaan lue! Kenapa Bang Yahya mau sih pacaran sama orang kayak elu?!”
tukas Sheila seenaknya tanpa memikirkan perasaan Nina.
Nina berang. Dia
tesinggung dengan apa yang diucapkan Sheila. Matanya langsung melotot pada
gadis berkulit sawo matang tersebut.
“hei! Maksud lue apa
sih? Kenapa jadi elu yang sewot dan menilai gue sebagai cewek yang salah buat
Bang Yahya? Apa uru……”
“kalau elu emang pacar
yang baik, mestinya lue tahu dong dimana dia, lagi ngapain, apa yang sedang didemo
dan diperjuangin. Peduli sedikit kek dengan aktivitas BEM-nya Bang Yahya.”
balas Sheila tak kalah ngotot.
Nina speechless.
“setidaknya gue dan
Bang Yahya memiliki profesi yang sama, yaitu kami seorang aktivis. Daripada
elu, elu cuma fokus sama diri sendiri doang!!” setelah mengatakan hal tersebut,
Sheila pergi begitu saja. Dia meninggalkan Nina yang masih merenungi apa inti
kalimat Sheila. Diam-diam dia menyesal telah bertanya kepada orang yang salah. Dasar cewek ganjen! gumam Nina dongkol.
Apa yang dikatakan
Sheila sedikit ada benarnya. Nina mengakui selama ini dia memang tidak pernah
mau memperdulikan aktivitas BEM pacarnya.
Nina adalah mahasiswa
jenius yang sehari-hari lebih dikenal sebagai Asisten Dosen untuk mata kuliah
Matematika Ekonomi. Sedangkan Bang Yahya, adalah orang yang paling popular dan
digandrungi oleh banyak mahasiswa sebagai Ketua BEM.
Bang Yahya pernah
meminta Nina untuk mengajarkannya mata kuliah Matematika Ekonomi. Nina pun
bersedia membantu. Setelah asistensi berakhir, akhirnya Bang Yahya mencoba
mendekati Nina untuk urusan hati. Didukung karakternya sebagai orang Sumatera
asli, Bang Yahya to the point tentang
perasaannya. Tanpa ragu, Nina pun menerima Bang Yahya. Kabar jalinan kasih dua
insan muda tersebut langsung tersebar dan mematahkan hati cewek-cewek sekampus
yang naksir sang aktivis.
Nina menatap sebuah
kotak cokelat putih yang sedari tadi ditangannya. Makhluk hidup di dalamnya bergerak-gerak
seperti minta kebebasan. Nina melirik sedikit dari celah kecil yang dibuatnya pada
bagian atas kotak. Si bulu putih itu menatap balik ke arah Nina tanpa mengerti apa
yang terjadi di luar kotak.
“Pus, pus, Abang Yahya-nya
nggak ada… Kamu jangan sedih ya!” ujar Nina.
Hari ini adalah hari
ulang tahun Bang Yahya. Nina tahu betul bahwa pacarnya itu sangat menyukai kucing,
apalagi yang berbulu putih bersih. Nina sudah menyiapkan hadiah sederhana itu
sejak lama. Tapi kini hatinya “tertampar”. Tanpa sadar airmatanya menetes
membasahi kotak sementara si bulu putih semakin bergerak-gerak di dalamnya.
Nina
akhirnya menitipkan kotak tersebut kepada Mas Deni, anggota BEM lain yang bisa
dipercayainya. Tak lupa dia mengirimkan pesan singkat selamat ulang tahun untuk
Bang Yahya. Dia sadar bahwa dirinya belum bisa menjadi pacar yang baik.
***
Nina
bangkit dari bangku di halte. Belum sempat dia menginjak tangga bus, tiba-tiba
seseorang menarik tangannya. Nina terkejut dan segera berbalik.
Lelaki
berhidung mancung itu mengembangkan senyum manisnya. “sayangku…” ucapnya
lembut.
Nina
tak kuasa lagi. Dia menjatuhkan badanya ke pelukan Bang Yahya. “maaf, aku nggak
pernah tahu apa saja kegiatan seorang aktivis, Bang!! Jadwal demonya, apa
pelanggaran yang sedang diperjuangkan dan …” kata Nina terbata-bata dalam
pelukan Bang Yahya. Airmatanya mengalir deras.
“maaf
Bang, aku…hiks..hiks…” Nina terisak sedih. Bang Yahya terdiam. Cinta sungguh
ajaib! Ia mampu menaklukkan seorang narator ulung terkulai lemas oleh cinta.
“seorang
aktivis juga nggak pernah tahu jadwalnya Asisten Dosen, sayang!” kata Bang
Yahya mengusap rambut Nina lembut.
“aktivis
kayak Abang cuma seneng main sama anak kucing putih doang, apalagi kalau anak kucing
lucu kayak gini, Abang betah!!” goda Bang Yahya. “tuh, lihat. Meong…meong…minta
dikasih makan…heheheh.”
“ABANG!!!!!”
Kedua
muda mudi tersebut pun mengalihkan pandangan kepada si pemilik bulu putih yang sedari
tadi manja di tangan Bang Yahya. Mereka sepakat memberinya nama Cilo, entah apa
hubungannya dengan warna putih bersih si kucing. Bodo amat.
Dan
seekor anak kucing mampu menciptakan kesenangan tanpa memandang profesi. Meong! J
***
Klo terlihat sekilas, Teh Inong itu tipe pejuang. Kalau jadi dewi, yg paling cocok menurut aku Dewi Perang. Dewi Perang yg siap memberangus org2 yg semena2. Aku sangat salut sisi ekstrovert teh inong bisa ditransfer jd sesuatu yg sekalu bermanfaat. Keren. Trus apa hubungannya sm cerpen ini? Ada dooong.. se-pejuang2nya seorang wanita pasti pny sisi romantis nya. Yup, I think this is so romantic story walau berlatar aktivis tg lg demo. very like it. Teh Inong bangeddd! :D
ReplyDelete~Naya
Ada yg typo. Let me edit: *selalu *ttg
Delete:: Dewi Pejuang? Hm, sounds great yabteh! Hueheh...Dan jika halbtersebut terjadi, maka yg paling utama akan sy lakukan adalah sapu bersih para koruptor kepar*t yg ada di Indo. Mereka lah sebenarnya penjahat negara yg paling kejam!!
ReplyDeleteEits, jangan salah teh..justru sy orgnya sgt romantis loh! Buktinya, lagu kesukaan sy adalah lagu2 Oldies barat era tahun 90an. Sungguh memorable songs! Hehe
terimakasih teh ats pujiannya! Sy mkin smangat menulis teh, dgn terus mengembangkan ide2 yg lebih bervariasi...ye ye ye!!
Cie teteh genre roman gini ehehe.. pertanda kah? *eh
ReplyDelete_Risa
:: pertanda apa nih Dek Risa?? Hueheheh...perjelas doong...hihihi..
ReplyDelete@iicoet