Monday, July 7, 2014

Makanan Penuh Cinta


Saya selalu terkesan jika makan di restoran apalagi kalu ditraktir. Karena biasanya menu dan tampilannya aneh-aneh. Tapi sebenarnya bukan itu alasan utama saya terkesan. Baiklah, alasannya adalah karena saya jarang pergi ke restoran. Dan alasan lainnya adalah saat saya makan di restoran, saya suka mengira-ngira bahan makanan apa yang membuat rasanya berbeda. Kadang jika saya sedang ingin, ada waktu, dan ada uang, saya suka membeli bahan dan mencoba membuatnya dirumah. Dan Alhamdulillah, hampir selalu gagal. Setidaknya pernah berhasil walaupun jarang.
Saya hampir lupa untuk memberitahu makanan kesukaan saya! Karena minggu ini temanya adalah makanan kesukaan ya jadi saya harus menulisnya. Setelah membaca cerita sebelumnya, mungkin kalian sudah tahu makanan yang saya sukai, kan? Makanan restoran. Salah. Sebenarnya yang saya sukai adalah makanan buatan ibu saya. Karena, dibuat dengan penuh cinta.
Sejak kecil, saya jarang pergi makan di restoran. Orangtua saya lebih suka membuat makanan untuk anak-anaknya. Alasannya adalah karena kita tidak tahu bagaimana proses mereka menyulap bahan menjadi sajian diatas piring. Kita juga tidak pernah tahu kualitas dari bahan-bahan yang digunakan. Menurut saya, ada persepsi pembeli tentang restoran, jika penampakan restoran itu bersih, menarik, dan mahal, dapat dipastikan kualitas makanan itu baik. Padahal yang kita lihat bersih dan menarik adalah bungkus dari restoran, bukan inti dari restoran. Kita tidak pernah masuk ke dalam intinya. Jangankan masuk, hanya untuk sekadar mengintip keadaan ruangan rahasia penuh misteri yang kita sebut dapur pun dilarang.
Mungkin karena alasan ini, orangtua saya merasa dipaksa membuat makanan sekreatif mungkin untuk menarik hati anak-anaknya. Saya ingat, dulu orangtua saya pernah membuat sarapan berupa mie. Mungkin bayangan dalam pikiran kita, tampilan dari mie itu tidak menarik dan sangat biasa. Tapi orangtua saya berbeda. Mereka membuat mie dalam piring kami berupa wajah manusia. Nasi dicetak  dan dihasilkan bentuk lingkaran sebagai muka. Lalu mie diletakkan sedemikian rupa sehingga menyerupai rambut keriting. Wortel sebagai mata dan kuping, buncis sebagai hidung, sawi dijadikan mulut, dan sawi lainnya dijadikan leher. Selain itu ada beberapa ide lain menata makanan ala orangtua saya yang sepertinya tidak perlu dijelaskan satu persatu.
Selain makanan yang ditata, kami suka makan bersama-sama. Dan kami bersedia menunggu sampai kami semua berkumpul dan baru mulai makan. Saya ingat, dulu selayaknya anak kecil saya sangat senang bermain bersama teman-teman sampai lupa waktu. Ibu saya selalu memanggil saya jika sudah waktunya makan, mungkin seharusnya saya tidak perlu menulis ini karena semua ibu pasti melakukan ini. Tapi saya pun malas untuk menghapusnya jadi yasudahlah. Setelah sampai dirumah, ternyata semua sudah menunggu dan siap makan. Setelah saya mencuci tangan, kami baru mulai makan bersama. Ini menjadi hal yang sangat saya sukai. Terkadang saya merasa bersalah jika sudah mulai makan sebelum semua berkumpul. Dan terkadang saya pun merasa kesepian jika harus makan sendiri.
Di sma, saya punya teman yang bernama Annas. Saya hampir selalu pulang bareng karena rumah kami searah. Kami tak pernah kehabisan bahan untuk dibicarakan sepanjang perjalanan pulang. Dalam perjalanan dari sekolah sampai kami turun angkot, kami melewati beberapa sd. Kami pernah membuat program untuk kami berdua, yaitu “Jelajah SD”.  Teknis program ini adalah kami membeli jajanan yang ada di sd yang kami datangi. Jelajah SD adalah salahsatu hal yang kami sukai. Biasanya kami melakukan ini pada hari terakhir UTS atau UAS. Kami sudah mencoba ke beberapa sd. Dari semua sd yang pernah kami jelajahi, ada satu yang sangat berkesan bagi kami. Jajanan disana unik, penuh warna, penuh tipuan, dan penuh derita.
Pertamakali saya datang ke sd ini, saya sudah menyimpan curiga dengan jajanan yang dijajakan. Ada minuman yang berwarna sangat tajam. Tapi tenang, setajam apapun warnanya tidak akan membuat mata berdarah. Ada juga makanan yang sausnya sangat aneh. Hampir semua makanan diselimuti dengan debu yang beterbangan yang tidak kasat mata. Saya yakin dengan hal ini karena, mereka berjualan tepat di pinggir jalan yang lumayan kecil, hanya cukup untuk satu mobil, dan jalan itu sangat kering. Kalau kalian tidak percaya, coba saja berdiri atau berjalan selama beberapa menit, pasti mata kalian akan merasa tidak nyaman. Tapi saya tidak akan memberitahu nama sd ini. Jadi terpaksa kalian harus percaya. Setelah berkeliling, akhirnya kami membeli makanan yang terlihat paling sehat dan pulang.  Dirumah, perut saya memberontak dan mengadakan tawuran dengan enzim di tubuh saya.  Mungkin itu pertama dan terakhir saya jajan disana. Semoga.

3 comments:

  1. Jelajah SD? Waww.. jadi ingin melakukan hal serupa :D

    ReplyDelete
  2. sd itu ditulisnya kapital atau biasa ya? soalnya kalo di kamu ada yang kapital ada yang biasa..

    -Risa

    ReplyDelete