Saya selalu
terkesan jika makan di restoran apalagi kalu ditraktir. Karena biasanya menu
dan tampilannya aneh-aneh. Tapi sebenarnya bukan itu alasan utama saya
terkesan. Baiklah, alasannya adalah karena saya jarang pergi ke restoran. Dan
alasan lainnya adalah saat saya makan di restoran, saya suka mengira-ngira
bahan makanan apa yang membuat rasanya berbeda. Kadang jika saya sedang ingin,
ada waktu, dan ada uang, saya suka membeli bahan dan mencoba membuatnya
dirumah. Dan Alhamdulillah, hampir selalu gagal. Setidaknya pernah berhasil
walaupun jarang.
Saya hampir
lupa untuk memberitahu makanan kesukaan saya! Karena minggu ini temanya adalah
makanan kesukaan ya jadi saya harus menulisnya. Setelah membaca cerita
sebelumnya, mungkin kalian sudah tahu makanan yang saya sukai, kan? Makanan
restoran. Salah. Sebenarnya yang saya sukai adalah makanan buatan ibu saya. Karena, dibuat dengan penuh cinta.
Sejak kecil,
saya jarang pergi makan di restoran. Orangtua saya lebih suka membuat makanan
untuk anak-anaknya. Alasannya adalah karena kita tidak tahu bagaimana proses
mereka menyulap bahan menjadi sajian diatas piring. Kita juga tidak pernah tahu
kualitas dari bahan-bahan yang digunakan. Menurut saya, ada persepsi pembeli
tentang restoran, jika penampakan
restoran itu bersih, menarik, dan mahal, dapat dipastikan kualitas makanan itu
baik. Padahal yang kita lihat bersih dan menarik adalah bungkus dari
restoran, bukan inti dari restoran. Kita tidak pernah masuk ke dalam intinya. Jangankan
masuk, hanya untuk sekadar mengintip keadaan ruangan rahasia penuh misteri yang
kita sebut dapur pun dilarang.
Mungkin karena
alasan ini, orangtua saya merasa dipaksa membuat makanan sekreatif mungkin
untuk menarik hati anak-anaknya. Saya ingat, dulu orangtua saya pernah membuat
sarapan berupa mie. Mungkin bayangan dalam pikiran kita, tampilan dari mie itu
tidak menarik dan sangat biasa. Tapi orangtua saya berbeda. Mereka membuat mie
dalam piring kami berupa wajah manusia. Nasi dicetak dan dihasilkan bentuk lingkaran sebagai muka.
Lalu mie diletakkan sedemikian rupa sehingga menyerupai rambut keriting. Wortel
sebagai mata dan kuping, buncis sebagai hidung, sawi dijadikan mulut, dan sawi
lainnya dijadikan leher. Selain itu ada beberapa ide lain menata makanan ala
orangtua saya yang sepertinya tidak perlu dijelaskan satu persatu.
Selain makanan
yang ditata, kami suka makan bersama-sama. Dan kami bersedia menunggu sampai
kami semua berkumpul dan baru mulai makan. Saya ingat, dulu selayaknya anak
kecil saya sangat senang bermain bersama teman-teman sampai lupa waktu. Ibu
saya selalu memanggil saya jika sudah waktunya makan, mungkin seharusnya saya
tidak perlu menulis ini karena semua ibu pasti melakukan ini. Tapi saya pun
malas untuk menghapusnya jadi yasudahlah. Setelah sampai dirumah, ternyata
semua sudah menunggu dan siap makan. Setelah saya mencuci tangan, kami baru
mulai makan bersama. Ini menjadi hal yang sangat saya sukai. Terkadang saya
merasa bersalah jika sudah mulai makan sebelum semua berkumpul. Dan terkadang
saya pun merasa kesepian jika harus makan sendiri.
Di sma, saya
punya teman yang bernama Annas. Saya hampir selalu pulang bareng karena rumah
kami searah. Kami tak pernah kehabisan bahan untuk dibicarakan sepanjang
perjalanan pulang. Dalam perjalanan dari sekolah sampai kami turun angkot, kami
melewati beberapa sd. Kami pernah membuat program untuk kami berdua, yaitu
“Jelajah SD”. Teknis program ini adalah
kami membeli jajanan yang ada di sd yang kami datangi. Jelajah SD adalah
salahsatu hal yang kami sukai. Biasanya kami melakukan ini pada hari terakhir
UTS atau UAS. Kami sudah mencoba ke beberapa sd. Dari semua sd yang pernah kami
jelajahi, ada satu yang sangat berkesan bagi kami. Jajanan disana unik, penuh
warna, penuh tipuan, dan penuh derita.
Pertamakali
saya datang ke sd ini, saya sudah menyimpan curiga dengan jajanan yang
dijajakan. Ada minuman yang berwarna sangat tajam. Tapi tenang, setajam apapun
warnanya tidak akan membuat mata berdarah. Ada juga makanan yang sausnya sangat
aneh. Hampir semua makanan diselimuti dengan debu yang beterbangan yang tidak
kasat mata. Saya yakin dengan hal ini karena, mereka berjualan tepat di pinggir
jalan yang lumayan kecil, hanya cukup untuk satu mobil, dan jalan itu sangat
kering. Kalau kalian tidak percaya, coba saja berdiri atau berjalan selama
beberapa menit, pasti mata kalian akan merasa tidak nyaman. Tapi saya tidak
akan memberitahu nama sd ini. Jadi terpaksa kalian harus percaya. Setelah
berkeliling, akhirnya kami membeli makanan yang terlihat paling sehat dan
pulang. Dirumah, perut saya memberontak
dan mengadakan tawuran dengan enzim di tubuh saya. Mungkin itu pertama dan terakhir saya jajan
disana. Semoga.
Jelajah SD? Waww.. jadi ingin melakukan hal serupa :D
ReplyDeleteLupa. Itu dari:
ReplyDelete~Naya
sd itu ditulisnya kapital atau biasa ya? soalnya kalo di kamu ada yang kapital ada yang biasa..
ReplyDelete-Risa