By: Siti Nurul Hanifah Agustia
Pada
postingan kali ini saya mau menceritakan kisah non fiksi tentang kucing. Saya
mengambil cerita ini dari pengalaman bapak saya. Kisah ini dimulai saat bapak
saya merantau dari Bojonegoro Jawa Timur ke Kota Kembang untuk melanjutkan
pendidikan di Fakultas Teknologi Industri ITB. Selayaknya anak rantau, bapak
saya kalang kabut mencari rumah yang menyediakan tempat untuk kost mahasiswa.
Setelah mencari-cari, akhirnya bapak saya mendapatkan kost di daerah Sekeloa.
Kamar kost bapak saya berada di lantai dua. Ruangannya cukup nyaman dan biayanya
pas dengan kantong mahasiswa. Di depan kamar ada kamar mandi kecil dan tempat
untuk menjemur pakaian.
Bapak saya
mulai merapikan barang-barang dan beristirahat sejenak di kamar kost yang hanya
berukuran 2x3 meter. Selepas sholat Ashar, jam 4 tepat, bapak saya dikejutkan
dengan suara gerombolan kucing yang kelaparan di rumah sebelah kost. Ini adalah
peristiwa yang langka bagi bapak saya. Kucing yang meronta meminta makan tidak
hanya satu atau dua melainkan puluhan kucing! Kucing tersebut datang
berbondong-bondong entah darimana. Bapak saya mencoba menengok kearah jendela
dan menebak apa yang sedang terjadi. Kaget dan bingung. Itulah yang dirasakan
bapak saya saat itu. Beberapa menit kemudian, dari pintu rumah itu keluarlah
sesosok nenek yang berusia sekitar tujuhpuluh tahun sambil membawa karung
besar. Bapak saya semakin bingung. Lalu nenek itu membuka karung tersebut.
Dan.. apa yang terjadi? Ternyata karung besar itu terisi penuh oleh makanan. Semua
makanan itu diberikan pada semua kucing yang kelaparan. Seketika suasana yang
sangat riuh berubah menjadi senyap. Yang terdengar hanyalah suara gigi para
kucing yang beradu dengan tulang belulang. Semua kucing itu sibuk mengisi perut
mereka dengan makanan yang disediakan oleh sang nenek. Setelah sekitar satu
jam, semua kucing yang kenyang pergi menghilang entah kemana. Perasaan kaget
dan bingung bapak saya terusir oleh kantuk sampai akhirnya bapak saya tertidur
dibuai mimpi.
Keesokan
harinya terjadi hal yang serupa. Sudah seminggu hal yang sama terus terjadi.
Saat itu, rasa penasaran bapak saya sudah tak terbendung lagi. Bapak saya pun
mencari informasi ke tetangga sekitar tentang peristiwa kucing yang terjadi
setiap hari. Ternyata nenek itu bernama Mak Iwang. Beliau bekerja sebagai
karyawan di sebuah rumah makan kecil. Setiap hari beliau mengumpulkan makanan
sisa dari piring para pembeli dan memasukkannya ke dalam karung besar. Saya
sangat takjub dengan yang beliau lakukan. Seorang nenek renta yang menjadi
karyawan rumah makan, setiap hari mengumpulkan makanan sisa dan mengangkutnya
sampai ke rumah dan membagikannya pada semua kucing liar. Sungguh tak terbayang
pahala yang didapat oleh Mak Iwang dari Allah SWT. Subhanallah.
Setiap
hari para kucing berkumpul tepat jam 4 sore di depan rumah Mak Iwang! Rumah
yang sederhana, namun dibalik kesederhanaan itu terdapat kemegahan hati Mak
Iwang. Kebaikan dan ketulusan hati Mak Iwang dapat membuat para kucing menurut
dengan apa yang diperintahkan oleh Mak Iwang. Mak Iwang tidak perlu repot untuk
mebagikan semua makanan kepada para kucing. Cukup dengan satu kata, “Diam!”,
dari mulut Mak Iwang maka semua kucing itu akan diam. Terkadang terlihat
sebersit senyuman di paras Mak Iwang yang renta. Terkadang pula terlihat Mak
Iwang bertatapan dengan kucing-kucing seakan mereka sedang melakukan percakapan
rahasia.
Pemandangan
seperti itu sekarang udah menjadi biasa dimata bapak saya. Hari itu seperti
biasa jam empat tepat Mak Iwang memberi makan pada kucing. Seperti biasa pula
kucing-kucing pulang dengan bahagia dan perut kenyang. Namun hari itu menjadi
hari yang sangat menyedihkan bagi semua warga yang tinggal disekitar rumah Mak
Iwang. Hari itu adalah kesempatan terakhir Mak Iwang untuk memberi makan puluhan
kucing jam 4 tepat di depan rumahnya. Pada malam hari itu, Mak Iwang
menghembuskan napasnya yang terakhir. Mengeluarkan udara residu yang selama ini
tersimpan dalam paru-paru beliau. Warga mengantar beliau ke tempat istirahat
yang terakhir pada pagi harinya. Belum habis suara isakan tangis dari para
warga dan kerabat, mulai terdengar suara kucing yang berdatangan. Sekarang sudah
jam empat tepat! Semua kucing sudah bersiap menyantap hidangan yang disuguhkan
oleh Mak Iwang. Sudah hampir satu jam puluhan kucing itu menunggu Mak Iwang
keluar dari pintu. Mereka terus mengeong di depan pintu rumah Mak Iwang. Bahkan
hingga larut malam, mereka masih setia menunggu. Menunggu Mak Iwang. Malam itu
parawarga tidak bisa tidur dengan tenang. Bukan hanya karena suara kucing yang
terus bersahutan, tetapi juga karena perasaan mereka yang kacau. Hati mereka
terenyuh mendengarnya. Teringat hal yang selalu Mak Iwang lakukan pada jam
empat tepat selama beliau hidup. Hari itu bukan hanya warga yang merasa sedih,
kucing-kucing pun merasakan hal yang sama. Kucing-kucing itu tetap berdiri di
depan pintu rumah Mak Iwang berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu,
menunggu Mak Iwang. Sampai pada akhirnya kucing-kucing itu pergi satu persatu
dengan berat hati.
Tak terasa
sudah tiga tahun bapak saya kost disana. Sudah tiga tahun bapak saya menengok
kearah jendela melihat kucing yang lahap memakan makanan sisa para pembeli.
Sudah tiga tahun pula bapak saya menjadi saksi kebaikan hati Mak Iwang. Sudah
tiga tahun. Dan hanya tiga tahun.
:: Subahanallah....Setiap makhluk memang diciptakan dengan tujuan-tujuan tertentu. Begitu yang pernah disampaikan oleh Bapak pembimbing agama saya. Bahkan, sehelai daun yang jatuh ke tanah pun itu ada maksud dan tujuannya. Jika diperhatikan, bahwa Mak Iwang tersebut, disisa akhir hidupnya, rupanya mendedikasikan hidupnya untuk kehidupan banyak kucing. Sungguh luar biasa! Mungkin, jika kucing-kucing tersebut dapat berbicara dan berpikir, mereka akan berterimakasih atas apa yang dilakukan wanita tua renta tersebut..Allah Maha Besar...
ReplyDeleteBtw, Sekeloa nya daerah mana lebih tepatnya?
Keren lah.. Sedih juga dengernya.. Semoga atas jasa beliau kucing-kucing itu turut mendoakannya untuk kebahagiaan abadi di akhirat nanti
ReplyDelete-Risa
ReplyDeleteAda satu yg aku yakini: kelak di akhirat nanti kucing2 itu akan membantu sekuat tenaga yg bs mereka lakukan untuk membantu Mak Iwang menggapai surgaNya. Aamiin.
ReplyDeleteSetiap tindakan, pikiran dan perasaan memberi sumbangan kepada bumi ini. Dan Mak Iwang bisa membuktikan itu dengan mkanan bekas yang mungkin kita anggap hanya seonggok sampah. Brilliant!
Inspiratif ceritanya...
~Naya