Bête bin malu deh hari ini ! Bahkan rasanya, berdiam
diri di kamar mandi selama 2 hari 3 malam tidak akan cukup untuk mengobati rasa
malu saya. Ini semua gara-gara sopir angkot dan tempat duduk kayu pendek itu.
Uhg!
Sore itu saya terburu-buru berangkat ke gedung RRI
Bandung untuk menghadiri kegiatan rutin setiap minggunya yaitu RRI English
Conversation Community. Saya pun segera berlari menuju gerbang kosan sambil
menenteng sepatu putih karet kesukaan saya. Minggu ini giliran saya menjadi programmer di sana. Maka saya pun merasa
tidak enak kalau sampai datang terlambat. Biasanya saya menggunakan angkutan
umum, yaitu angkot berwarna hijau tulisan Sadang Serang-St.Hall untuk sampai di
tempat tujuan. Jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 4.10 sore pas, sedangkan
acara telah dimulai sejak pukul 4.00. Crap!
Terbayang sudah kekaretan jam kedatangan saya yang molor beberapa menit.
Setelah mendapatkan angkot yang saya cari, saya pun
tercengang dengan isi dari kendaraan roda 4 tersebut, penumpangnya PENUH !!!
Owalah, dimana saya akan duduk ? Namun, karena terburu-buru, saya langung naik
saja karena dikejar waktu. Sialnya, saya kebagian tempat duduk di kursi yang
paling tidak nyaman, yaitu kursi kecil tepat di depan pintu angkot, dimana saya
harus menghadap ke bagian belakang angkot dan menonton semua gerak gerik
penumpang yang lain, terkenal sebagai kursi cadangan. Sungguh menyebalkan!
Masih mending kalau ada cowok yang bisa dikecengin
sebagai pelipur lara, ini malah ibu-ibu semua lengkap dengan anak-anaknya
yang pada berkeringat. Sumpah! Kondisinya saat itu terbilang ‘paling bau’ untuk
ukuran angkot di kota besar seperti Bandung, dimana angkot yang ‘cukup bau’
adalah ketika saya masih duduk di bangku SMU di Parepare, sebuah kota kecil di
provinsi Sul-Sel, dan setiap pulang sekolah, semua anak sekolahan seperti
berlomba memamerkan ‘kebauannya’ satu ruang angkot dan saya harus bertahan pada
saat itu sebagai pemenang ‘penahan bau penumpang angkot terbaik’. Hiyaks!
Saya sebenarnya adalah tipe pemilih dalam hal
angkot. Sebab tidak semua angkutan umum di mana pun tempatnya, mampu memberikan
pelayanan yang diharapkan penumpang, iya kan ? Mana lagi kalau si angkot
melakukan kebiasaannya yang membuat saya ingin garuk-garuk tanah karena kesal, ngetem lama. Uhg! Seperti saat itu,
walaupun kondisi angkot sudah penuh sesak, masih saja dipaksain masuk penumpang
yang lain. Yang ada malah kumpulan wajah-wajah pundung ibu-ibu karena harus memangku anaknya beberapa orang dan
juga penumpang lain yang kudu ‘memadatkan’
pinggul dan pantatnya demi berbagi tempat duduk dengan penumpang yang baru naik.
Saya pun ternyata mau tidak mau harus berbagi bangku pendek, kecil,
menyakitkan, dan doyong dengan
seorang bapak yang badannya hampir 2 kali badan saya. Huuuaaaa…kebayang dong !
Selama perjalanan, saya membaca kembali bahan
diskusi yang akan saya berikan kepada teman-teman di komunitas nanti. Sedang
asyiknya saya bertatapan dengan beberapa lembar kertas HVS di tangan, tiba-tiba
si sopir angkot mengerem mendadak. Gubrak ! semua badan penumpang tersungkur ke
arah depan angkot, bahkan ada beberapa anak kecil yang kejedot dengan penumpang lainnya. Sedangkan kondisi punggung saya
yang harus terbentur hebat dengan besi yang terpasang tepat di belakang sang
sopir menjadi saksi bisu peristiwa bersejarah tersebut (hehehe....lebay J
). Sakit pun tak dapat saya pungkiri, rasanya tulang-tulang belakang saya
nyeri. Kontan saja, para penumpang memasang wajah cemberut tingkat tinggi
kepada sopir, tapi dengan tampang merasa bersalah, si sopir justru pura-pura melemparkan
kemarahannya kepada angkot lain yang memasaknya mengerem mendadak.
Setelah itu, gas kembali ditancap oleh sang sopir.
Namun entah karena ikutan kesal jadi kakinya terlalu kuat menginjak gas,
sehingga yang terlihat selanjutnya adalah badan pemumpang yang condong ke
bagian belakang angkot secara serentak bagaikan pohon kelapa di pesisir pantai
yang diterpa angin laut. Hihihi…Tetapi saya justru harus mengalami gerakan yang
berbeda dengan para ibu-ibu, yaitu saya tersungkur hebat ke bagian depan saya
dan harus menanggung malu karena status saya pada saat itu adalah menyentuh
‘lantai’ angkot. Crap! Kertas-kertas saya pun harus ikut berjatuhan. Bukan main
malu dan merahnya wajah saya kala itu. Tetapi untuk menunjukkan kehebatan saya
sebagai orang Sumatera (ha? nyambungnya dimana??), saya pun bangkit dan
memunguti kertas-kertas saya seperti saya mengumpulkan harga diri yang tercecer
di sana-sini termasuk yang terselip di kaki penumpang bersepatu ceper.
Saya pun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali kembali
menikmati tempat duduk jelek itu dan sopir angkot kembali menikmati
pekerjaannya. Saya terjatuh karena ternyata kursinya tidak terpasang kuat alias
doyong, jadi pantas saja saya harus
menjadi badut angkot untuk beberapa detik. Memang sih hanya beberapa detik,
tapi malunya beberapa tahun baru bisa sembuh !
Seharusnya tempat duduk cadangan yang disediakan
sopir angkot harus yang kuat, nyaman dan sama empuknya dengan tempat duduk
utama kalau perlu modelnya pun jangan terlalu kecil. Jangan mentang-mentang
hanya cadangan, sehingga yang disediakan adalah kursi yang jelek dan doyong serta terbuat dari kayu keras
sehingga penumpang seperti saya harus merasakan sakit beberapa saat setelah
turun dari angkot itu. Semua penumpang kan harus membayar sesuai dengan jarak
yang ditempuh penumpang walaupun harus duduk di kursi cadangan jadi berhak
mendapatkan kenyaman yang sama pula. Sopir angkot pun bisa menambahkan semacam
pegangan kecil di kedua sisi kursi cadangan tersebut agar penumpang tidak tersungkur
apabila sang sopir angkot terpaksa harus melakukan beberapa ‘aksi’ hebatnya
dalam perjalanan.
Selain itu, sopir angkot bisa menambahkan semacam
pengharum ruangan yang membantu dalam mengusir bau tak sedap yang ‘diproduksi’
para penumpang misalnya Stella yang berkemasan sachet, jangan hanya diletakkan pada bagian depan sang sopir saja,
tetapi juga pada bagian yang paling banyak jumlah penumpangnya, yaitu 6-5 pada
kedua sisi. Ya, walapun angkot tidak memiliki AC, tetapi setidaknya angin bisa
membantu penyebaran pengharum ruangan tersebut ke segala arah dengan
menggantunya di atap angkot. Jadi bagi penumpang yang tidak kuat dengan
atmosfir angkot bisa mencium kesegaran pengharum walaupun hanya sesaat, betul
kan?
Setelah membayar Rp2.500 kepada si empunya angkot,
saya pun segera berlari menuju gedung RRI Bandung sambil mengeluarkan tisu
basah dari dalam tas. Niatnya untuk membersihkan telapak tangan yang terasa
gatal dan tanpa sadar ternyata ada benda cokelat lunak menempel di tangan saya.
Otak saya langsung saja mensugesti bahwa itu adalah tanah liat dari lantai
angkot. “ARRRGHHH” kontan saja saya langsung berlari mencari kamar mandi
ataupin pancuran air untuk membersihkannya.
Sebuah saran untuk para sopir angkot yang terhormat,
janganlah lupa untuk membersihkan lantai angkotnya minimal 2 kali seminggu agar
tidak ada benda-benda yang tidak diinginkan seperti yang saya temui sore itu.
Saya hanya bisa menarik napas panjang sebelum akhirnya saya larut dalam acara
komunitas sore itu dan mencoba menutup mulut atas apa yang baru saja saya
alami. Hal itu demi menjaga harga diri saya. Huft !
By: @iicoet
Masyaallah.. pengalaman yg mengerikan ya, Teh. Penyampaiannya dah bagus sampai saya ikut gemes seolah ngerasain yg tengah teteh hadapin. Oalaaaah. Angkot oh angkottt
ReplyDelete~Naya
aduh teteh saya ngakak *oke maaf
ReplyDeletetulisan teteh selalu membuat pembaca hanyut dalam ceritanya.. good job teh!
:: hhuuahahahahha....
ReplyDeleteitu cerpen based on true story pisan loooh!!
makasih smuaaa ats komentarnya..
keep writing everyone..!!